Jelajah Katulampa

Tayangan di salah satu televisi nasional tentang Kampung Warna Warni di Bogor menarik perhatian saya untuk mengunjunginya. Saya pun mencari data lebih lengkap tentang Kampung Warna Warni tersebut di internet.

Rupanya Kampung tersebut terletak di wilayah Katulampa, daerah yang selalu menjadi trending topic saat musim penghujan. Dengan informasi yang seadanya, saya pun akhirnya berencana mengunjungi daerah tersebut.

Kesempatan itu datang saat hari Sabtu tanggal 3 Februari 2018. Perjalanan diawali dengan menggunakan kereta api ke Stasiun Bogor.

Sesampainya di Bogor, karena kebingungan dengan arah dan angkot yang menuju Katulampa, saya pun bertanya ke seorang Polantas yang sedang bertugas.

Setelah mendapatkan informasi yang cukup, saya pun menggunakan angkot No. 10 jurusan Terminal Merdeka-Bantar Kemang. Sesampainya di pertigaan Jalan Durian, Baranangsiang, oleh pengemudi angkot saya disarankan untuk meneruskan perjalanan dengan angkot lainnya yaitu angkot No. 13 jurusan Bantar Kemang-Ramayana.

Ternyata Jalan Katulampa tidak terlalu jauh dari pertigaan Jalan Durian tadi. Lama perjalanan menggunakan angkot No. 10 sekitar satu jam, sedangkan dengan angkot No. 13 hanya sekitar 5-10 menit. Ongkos angkot masing-masing sebesar Rp. 7000 dan Rp. 3000.

Di pertigaan Jalan Katulampa, tempat saya diturunkan oleh angkot No. 13, sebenarnya ada pangkalan ojek, namun saya memilih berjalan kaki saja. Maklum, namanya juga makhluk backpacker.

Sedikit pengalaman dari saya, ketika akan pulang menuju Stasiun Bogor dari pertigaan Jalan Durian, menunggu angkot No. 10 ternyata sangat lama. Sehingga saya akhirnya memutuskan kembali naik angkot No. 13 dan kemudian dilanjutkan naik angkot No. 03 jurusan Baranangsiang-Terminal Bubulak. Kemudian saya turun di Stasiun Bogor dengan ongkos angkot masing-masing sebesar Rp. 3500 dan Rp. 4000.

Di sepanjang Jalan Katulampa, pemandangan warna-warni bangunan sangat mengagumkan. Mulai dari tembok rumah, toko dan sekolah.

Dan bahkan jembatan dan tembok di pinggir sungai juga dicat warna warni. Kreatifitas yang luar biasa.

Hiking Bocah

Saya terus menelusuri jalan hingga sampailah di Bendungan Katulampa. Bendungan ini cukup kokoh menampung debit air yang besar.

Di bendungan ini juga yang membelah sungai menjadi dua bagian. Aliran sungai di sebelah kanan dengan air sangat deras dan aliran sungai di sebelah kiri dengan air yang tidak deras.

Aliran sungai sebelah kanan yang sangat deras

Di sisi aliran yang tidak deras ini ternyata sedang ada aktifitas arung jeram. Dan yang menjadi pesertanya adalah anak-anak. Wow keren…

Aliran sungai sebelah kiri yang tidak deras
Sumber : Hiking Bocah

Saya pun mencoba menelusuri informasi tentang aktifitas anak-anak tersebut. Sampailah saya pada sekelompok orang yang sedang mempersiapkan kegiatan arung jeram tersebut. Rupanya sedang ada kegiatan Hiking Bocah, yang kebetulan saat itu juga melakukan aktifitas arung jeram.

Saya melihat persiapan yang cukup terorganisir dari pengelola Hiking Bocah ini. Dari mulai penyiapan perahu karet, penggunaan alat-alat keselamatan dan keamanan dan juga guide.

Terdapat dua perahu karet yang digunakan dalam arung jeram tersebut. Uniknya perahu yang sudah sampai ujung arung jeram, dikempeskan dan dibawa lagi oleh sepeda motor yang bergerobak. Hal yang sama juga dilakukan untuk mengangkut anak-anak saat selesai arung jeram.

Perahu karet yang sudah dikempeskan kemudian dipompa kembali oleh tenaga operasional Hiking Bocah dengan menggunakan pompa khusus.

Proses memompa perahu karet

Hanya dalam hitungan menit, perahu karet sudah siap digunakan. Satu persatu anak-anak pun naik di perahu karet tersebut.

Saya pun berkesempatan bertemu dengan Pak Adjie, pimpinan dari pengelola Hiking Bocah. Pak Adjie ini punya ide brilian untuk mengembangkan wilayah Katulampa sebagai wisata alternatif untuk anak-anak.

Pak Adjie, pimpinan pengelola Hiking Bocah

Sebelum menaiki perahu karet, anak-anak dan orang tua diberi briefing oleh Pak Adjie perihal arung jeram tersebut.

Di samping ada guide, orang tua juga bisa mendampingi anak-anaknya dalam arung jeram tersebut. Sesuai informasi dari Pak Adjie bahwa peserta Hiking Bocah banyak berasal dari murid-murid sekolah di Jakarta.

Arung jeram sendiri adalah kegiatan optional dari Hiking Bocah. Kegiatan utama tentunya ada pada hiking di alam terbuka di bukit sekitar Katulampa.

Sumber : Hiking Bocah
Sumber : Hiking Bocah
Sumber : Hiking Bocah
Sumber : Hiking Bocah

Sesuai informasi, bahwa untuk mendaftar menjadi peserta kegiatan Hiking Bocah, hanya bisa dilakukan secara online. Saat ini Pak Adjie berencana membuat paket wisata lainnya di samping hiking dan arung jeram.

Penasaran dengan Hiking Bocah? Silahkan mengakses akun instagram @hikingbocah atau www.hikingbocah.com.

 

Pacitan Kota 1001 Goa

P_20170920_110811

Tersiarnya kabar tentang banjir yang melanda Pacitan beberapa hari yang lalu membuat saya kaget. Hal itu dikarenakan beberapa bulan sebelumnya saya bersama rekan-rekan kerja di Kementerian Pariwisata melakukan kegiatan pelatihan berbasis kompetensi bidang homestay di Pacitan.

Satu yang membuat saya terkesan adalah stakeholder dalam hal ini pemerintah daerahnya yang sangat concern dengan pariwisata.

Pada kegiatan pelatihan itu, beberapa narasumber menyampaikan paparannya termasuk juga Kadis Pariwisata, Pemuda dan Olahraga yaitu Ibu Endang Surjasri.

Rupanya Ibu Endang ini orang yang ramah dan humoris, sehingga materi paparannya dapat disampaikan dengan luwes dan mengundang antusiasme peserta. Apalagi dibumbui dengan humor di sana sini, bikin ngakak para peserta kegiatannya.

Di luar kegiatan pelatihan, saya dan beberapa anggota tim dari Kemenpar sempat mengunjungi beberapa obyek wisata di Pacitan.

Yang pertama adalah Pantai Klayar. Kami berkesempatan mengunjungi pantai ini pada saat perjalanan dari Yogyakarta menuju ke hotel di Pacitan.

Pantai ini cukup ramai dikarenakan beberapa hal yang cukup menarik, mulai dari hamparan pasir yang luas, All Terrain Vehicle (ATV) dan terdapatnya gardu pandang.

123

4
Gardu pandang Pantai Klayar

Tempat yang berikutnya yang kami datang adalah Pantai Kasap dan Pantai Watu Karung. Saya dan angggota tim lainnya mengunjungi pantai ini sore hari seusai kegiatan pelatihan.

Pantai Kasap sendiri memiliki spot menarik yang dianggap sebagai Raja Ampat-nya Pacitan.

5

6
Pantai Kasap, Raja Ampat-nya Pacitan

Di tempat ini, tersedia beberapa papan nama yang dapat digunakan untuk berfoto. Saya pun menggunakan salah satu papan nama tersebut.

78

Pantai berikutnya yang menjadi tujuan kami adalah Pantai Watu Karung. Berdasarkan informasi yang kami terima, Pantai Watu Karung ini adalah tempat untuk kegiatan surfing kelas dunia.

Pada saat kami mengunjungi pantai tersebut, ada banyak bule yang memang sedang latihan surfing. Ombak di pantai ini rupanya cukup menarik dan menantang adrenalin para peselancar asing tersebut.

9
Pantai Watu Karung

Destinasi wisata terakhir yang kami kunjungi adalah Goa Gong. Tempat ini kami kunjungi pada saat perjalanan pulang menuju Yogyakarta.

Ada sedikit pertanyaan menggelitik terkait dengan jumlah goa di Pacitan sehingga mendapatkan sebutan Kota 1001 Goa. Saya pun menanyakan hal tersebut ke salah satu pengelola Goa Gong. Beliau menjawab dengan diplomatis terkait sebutan 1001 Goa tersebut, bahwa “Dari seribu goa di Pacitan hanya satu yang spesial yaitu Goa Gong. “ 🙂

Kami memasuki Goa Gong dengan ditemani oleh pemandu wanita yang menjelaskan banyak hal tentang goa tersebut.

10

11

13
Warna-warni yang mempesona

14

Dengan destinasi wisata yang dimiliki oleh Pacitan, baik itu berupa pantai, goa dan yang lainnya membuat kabupaten ini menjadi incaran banyak wisatawan.

Semoga bencana banjir di wilayah Pacitan dan juga dampaknya, dapat segera ditangani dengan baik. Sehingga masyarakat di sana dapat melakukan aktifitas seperti biasa, termasuk dalam hal pariwisata. Maju terus Pacitan…

Trip Seru ke Gunung Prau

Gunung Prau… kalo ingat nama itu bagai sebuah lelucon buat saya.

Bagaimana tidak? Kampung halaman saya ada di wilayah dekat Sukorejo-Kendal yang lokasinya sebenarnya tidak terlalu jauh dari gunung tersebut. Tapi selama bertahun-tahun lamanya saya belum pernah mendaki ke gunung tersebut.

Akhirnya kesempatan untuk menjelajah gunung tersebut datang juga. Bersama dengan teman-teman dari komunitas Backpacker Jakarta (BPJ) yang dikomandoi oleh trio CP yaitu mas Karlim, mas Momo dan Mbak Anna Amelia.

Sesuai rencana, trip sendiri akan dimulai dari base camp di Patak Banteng. Namun dalam perjalanan ke arah base camp tersebut ada kendala dikarenakan sedang ada pembangunan jembatan.  Sehingga arus transportasi dari dan menuju Patak Banteng  menjadi terputus.

Dua jalur jalan dari arah berlawanan menjadi semrawut, karena masing-masing kendaraan baik mobil pribadi, angkutan umum maupun angkutan barang dan ditambah pula dengan puluhan sepeda motor bertemu di jalan yang sempit. Alhasil bus dengan peserta trip di dalamnya terjebak di kemacetan parah selama sekitar satu jam lamanya.

P_20170902_102357
Macet total…

Karena bus tidak bisa melanjutkan perjalanan, maka sesuai kesepakatan bersama seluruh tas carrier dan bawaan lainnya akhirnya dikeluarkan dari bus untuk kemudian dibawa oleh masing-masing pemiliknya dengan berjalan kaki melewati konstruksi jembatan yang sedang dibangun.

P_20170903_152427
Suasana pembangunan jembatan menuju Patak Banteng

Bagi saya pribadi, hal tersebut tidak masalah karena sekaligus untuk pemanasan sebelum melakukan pendakian yang sebenarnya.

Setelah melewati konstruksi jembatan tersebut, peserta trip beserta tas carrier dan bawaan lainnya melanjutkan perjalanan, kali ini menggunakan bus ukuran 3/4. Tas carrier dan barang lainnya disatukan dan diikat pada bagian atap bus. Sedangkan peserta masuk ke dalam bus, tentunya dengan kondisi berdesak-desakan.

P_20170902_105542
Berdesak-desakan di dalam bus ukuran 3/4

Tak berapa lama perjalanan, akhirnya bus 3/4 tersebut tiba di desa Patak Banteng.  Sesampainya di base camp yang bernama “Azada Lesehan” kami pun beristirahat sembari mengisi perut.

Beberapa peserta trip ada yang menggunakan base camp lainnya untuk beristirahat dan juga mengisi perut.

P_20170903_141108

Azada Lesehan ini adalah rumah sederhana yang dikelola oleh Pak Ndarin bersama istrinya. Di dalamnya terdapat ruangan yang cukup untuk beristirahat dengan dilengkapi fasilitas kamar mandi dan  kamar untuk shalat. Di samping itu, base camp tersebut juga menyediakan makanan, souvenir dan juga oleh-oleh khas daerah setempat.

P_20170903_143539
Pak Ndarin beserta istri

Mbak Anna Amelia berinisiatif membuatkan nasi goreng untuk beberapa peserta trip. Saya pun memesan menu tersebut karena memang makanan tersebut adalah salah satu favorit saya jika travelling. Ternyata masakan yang dibuat oleh mbak Anna Amelia cukup enak, setidaknya saya bisa carbo loading sebelum mendaki.

Setelah beberapa orang mendapatkan masakan nasi goreng ala Mbak Anna Amelia,  istri Pak Ndarin baru tiba di rumah dan mengambil alih pekerjaan mbak Anna Amelia membuatkan nasi goreng.

Pendakian sendiri dimulai pukul 14.00 WIB, dengan melewati beberapa anak tangga di sekitar area base camp. Selama dalam jalur pendakian saya bertemu dengan Mbak Ida, sesama peserta trip BPJ yang dulunya pernah satu trip ke Banyuwangi. Kali ini mbak Ida melakukan trip bersama temannya yaitu mbak Astrid.

Semula saya bisa berjalan beriringan dengan kedua perempuan tersebut, namun di tengah perjalanan muncul masalah, ketika kaki kanan saya beberapa kali kram. Sehingga saya pun  tertinggal oleh mereka. Ketika saya berhasil menyusul mereka pada saat mereka beristirahat, tak berapa lama gantian kaki kiri yang kram. Sehingga beberapa kali saya menghentikan langkah untuk sekedar meluruskan dan meregangkan kaki.

Saya pun akhirnya harus berkompromi dengan kondisi saya dan berjalan perlahan-lahan menuju ke atas. Setelah dengan susah payah, akhirnya sampai juga di puncak Prau. Di tempat ini, saya kembali bertemu dengan Mbak Ida dan Mbak Astrid.

Ternyata kami bertiga mendahului peserta trip BPJ yang lain. Karena memang belum mendapat lokasi camping, maka kami pun segera berburu tempat tersebut. Hal itu dilakukan karena lokasi camping tentunya akan menjadi rebutan dengan kelompok pendaki yang lain, maklum saja peserta trip BPJ seluruhnya sekitar 34 orang. Jadi kamipun harus rebutan “lapak” untuk camping dengan kelompok pendaki lainnya.

Saya, dengan dibantu Mbak Ida dan Mbak Astrid akhirnya menemukan lokasi yang cocok serta langsung mendirikan tenda untuk kelompok pendaki kami. Tak berapa lama, peserta trip BPJ lainnya mulai berdatangan dan langsung juga mendirikan tenda.

Setelah mayoritas peserta trip sudah sampai di Puncak Prau, kesibukan di lokasi camping mulai terasa. Mulai dari ganti pakaian, hingga pada kegiatan memasak.

Lagi-lagi, mbak Anna Amelia menunjukkan kepiawaiannya dalam hal masak-memasak. Dia dan dibantu beberapa orang lainnya memasak untuk makan malam peserta trip.

Makanan pun disantap oleh peserta trip, tentunya dengan menu yang sederhana. Usai makan malam beberapa peserta ada yang langsung meringkuk ke dalam tenda, beberapa peserta lainnya ada yang sibuk berfoto-foto dengan background langit di malam hari. Maklum, bintang tampak begitu jelas di langit Puncak Prau. Suhu di puncak Prau sendiri lumayan dingin dan kadang disertai hembusan angin yang cukup kencang.

Pagi harinya, moment yang paling ditunggu oleh para pendaki yaitu menyaksikan sunrise. Semula saya tidak begitu berminat menyaksikan moment tersebut dan lebih menikmati menu sarapan pagi yang lagi-lagi dibuat oleh mbak Anna Amelia dengan dibantu teman-teman yang lain.

P_20170903_060241
Totalitas sang fotografer
P_20170903_060750
Pose mas Karlim dan mbak Yulia yang aduhai

Seusai sarapan, karena beberapa teman yang lain masih menikmati  moment sunrise, saya pun berubah pikiran dan bergabung dengan mereka untuk berfoto-foto. Selesai itu,  saya kembali ke area camping sembari menunggu peserta lainnya sarapan.

P_20170903_060950

Seusai sarapan, kami pun merapikan peralatan memasak setelah itu satu persatu tenda dibereskan dan dirapikan. Sekitar pukul 11.00 kami pun mulai turun gunung. Waktu tempuh hingga mencapai base camp sekitar 1 jam 45 menit, jauh berbeda dengan waktu yang saya butuhkan pada saat mendaki sampai ke puncak Gunung Prau yang memakan waktu sekitar 3 jam.

Di base camp Azada Lesehan, saya menikmati masakan nasi goreng yang kali ini dibuat oleh istri Pak Ndarin. Kebetulan saat itu ternyata ada juga kelompok kecil pendaki lain dari Jakarta yang sedang menggunakan rumah Pak Ndarin sebagai base campnya.

Dari informasi yang Pak Ndarin sampaikan rumahnya memang sering digunakan oleh para pendaki untuk singgah. Pernah suatu kali, ada rombongan dalam jumlah besar menginap di rumah Pak Ndarin, padahal Pak ndarin sendiri sempat menawarkan ke rombongan tersebut untuk menginap di tempat lain yang lebih layak tetapi mereka menolaknya. Mungkin mereka lebih nyaman tinggal di rumah Pak Ndarin.

Dengan keramahan dan kesederhanaan mereka Pak Ndarin dan istri, banyak orang yang akhirnya nyaman dengan rumah dan suasana di dalamnya serta kembali lagi ke tempat tersebut.

P_20170903_102216

Dari pendakian Gunung Prau, setidaknya saya mendapatkan pengalaman berharga untuk selalu siap dalam pendakian. Tiap gunung punya karakteristik tersendiri, gunung yang tak terlalu tinggi pun ternyata bisa membuat kram kedua kaki saya. 🙂

Geliat Pasar Minggu Di Malam Hari

P_20170826_192957

Strategis! Satu kata yang bisa disematkan untuk area Pasar Minggu.

Bagaimana tidak, kawasan ini mempunyai aksesbilitas dari berbagai moda transportasi.

Pasar Minggu tidak hanya punya area pasar dan perdagangan, tetapi juga berdampingan dengan terminal. Jika di tempat lain, terminalnya hanya menampung angkutan kota seperti : mikrolet , bus ukuran 3/4, tidak demikian dengan terminal Pasar Minggu.

Bus DAMRI jurusan Pasar Minggu- Bandara Soekarno Hatta dan bus Transjakarta jurusan Pasar Minggu-Tanah Abang juga tersedia di terminal ini.

Di seberang terminal, terdapat Stasiun Kereta Api Pasar Minggu. Dari stasiun ini kita bisa menggunakan kereta untuk bepergian ke arah Kota, Tanah Abang atau juga Bogor.

Tiga moda transportasi dalam satu tempat sekaligus yaitu bus DAMRI, bus Transjakarta dan kereta api  sepertinya tidak dimiliki oleh daerah-daerah lainnya yang ada di Jakarta.

Tak jauh dari kawasan itu, terdapat kantor Polsek Pasar Minggu. Yang terbaru, saat ini sudah ada RSUD Jati Padang yang berdampingan dengan Kantor Polsek Pasar Minggu sendiri.

Hanya beberapa ratus meter dari kedua lokasi tersebut terdapat Gelanggang Olahraga (GOR) Pasar Minggu .

Pasar Minggu sendiri saat ini tengah berbenah. Gedung pasar yang lama akan diganti dengan gedung pasar yang baru, tentunya yang lebih bagus dan megah. Saat ini sedang dibangun Tempat Penampungan Sementara (TPS) untuk para pedagang di kios Pasar Minggu.

Sudah terdapat banyak tiang-tiang besi di TPS tersebut dan mesin crane bekerja walaupun pada malam hari.

P_20170826_194244

Beberapa kali saya melewati terminal saat usai Maghrib. Para pedagang di sekitaran pasar sudah membawa gerobak yang berisi lapak-lapak untuk berdagang.

P_20170826_194402

Luar biasanya para pedagang tersebut, mereka sudah mulai menyiapkan untuk berdagang jauh sebelum “jam operasionalnya”. Padahal, sesuai yang kita tahu bahwa pedagang sayuran di pasar-pasar tradisional berjualan pada saat dinihari.

Saya sendiri ke area Pasar Minggu umumnya untuk berbelanja buah. Kali ini saya sengaja membeli buah pada malam hari. Jangan dibayangkan kalau di malam hari pedagang buahnya tidak ada, karena kenyataannya pedagang buah di Pasar Minggu beroperasi 24 jam. Luar biasa…

P_20170826_194732

Tempat pedagang buah di Pasar Minggu sendiri tidak berada di dalam bangunan pasar. Ada yang berjualan dengan menggunakan gerobak, ada juga yang menggunakan petak-petak sederhana di dekat area terminal.

Petak-petak tersebut didominasi oleh para pedagang pisang. Kebetulan saya sendiri adalah penggemar berat buah pisang Ambon. Sehingga dalam sebulan, beberapa kali belanja pisang Ambon di area Pasar Minggu.

P_20170826_192935

Dua sisir pisang Ambon saya dapatkan dengan harga Rp. 50.000. Tentunya harga tersebut adalah hasil tawar-menawar.

Di samping pisang, buah lainnya yang jadi incaran saya adalah mangga. Hampir setiap saat terdapat mangga dari berbagai daerah yang dijual di Pasar Minggu, seperti mangga Indramayu, mangga manalagi dan sebagainya.

Secara tak sengaja, saya menemukan pedagang keripik pisang. Tanpa pikir panjang, saya juga membeli 2 kantong keripik pisang dengan total harga Rp. 40.000.

Lumayanlah, keripik pisang bisa buat cemilan kalo pas lagi suntuk.

P_20170826_193132

Beruntunglah mereka yang menjadi penduduk di area Pasar Minggu. Kebutuhan akan makanan, pakaian, kesehatan, rasa aman, berolahraga dan juga transportasi ke segala penjuru mata angin dapat terpenuhi dengan mudah.

Dengan aneka macam fasilitas umum yang lengkap, Pasar Minggu akan menjadi magnet baik untuk hunian maupun untuk tempat bisnis di masa yang akan datang.

Camping Ceria di Curug Ciputri Bogor

Melepaskan penat dari rutinitas di Ibukota seolah menjadi keharusan bagi saya.

Banyak pilihan tempat untuk sekedar refreshing, misalnya ke gunung, ke pantai, mengikuti city tour ke kota lain dan sebagainya.

Alternatif wisata saya coba lakukan yaitu ke Curug Ciputri di Bogor. Secara pribadi, saya sebetulnya kurang menyukai wisata ke curug.  Bagi saya trekking ke curug kurang menantang dibandingkan wisata ke gunung. Di samping itu pemandangan yang hanya berupa air terjun yang sepertinya tidak begitu keren buat saya. Selalu ada motto “Saya kurang cocok main di air”-)

Namun karena ada embel-embel camping ceria, itu yang membuat saya memutuskan ikut bergabung. Setidaknya ada moment seperti memasang tenda dan memasak yang mirip seperti suasana di gunung.

Lokasi tempat Bumi Perkemahan Curug Ciputri sendiri cukup luas. Saat itu sudah beberapa tenda dari peserta yang sudah terpasang di lokasi.

Yang membuat nyaman, di tempat tersebut juga tersedia sekitar 6 bilik kamar mandi dan juga mushola untuk peserta camping. Warung juga tersedia jika sekedar ingin mencicipi makanan setempat.

5.
Kebersamaan dalam camcer

Dari area perkemahan, untuk mencapai Curug Ciputri memerlukan waktu sekitar 30-45 menit berjalan kaki. Dalam perjalanan, kita akan disuguhi pemandangan hutan pinus yang sangat indah.

Sesampainya di lokasi, ternyata air terjun yang dituju tampak biasa saja. Ada beberapa orang bermain-main di lokasi air terjun yang mengakibatkan genangan airnya tampak berubah menjadi keruh.

Beberapa teman mengabadikan foto dengan berbasah-basah terkena guyuran air terjunnya. Saya sendiri hanya selfie ala kadarnya.

Sekitar satu jam berada di air terjun, kami memutuskan kembali ke Bumi Perkemahan. Dalam perjalanan, keindahan hutan pinus menjadi magnet buat kami. Kami sempatkan untuk berfoto untuk beberapa waktu lamanya.

Sekembalinya dari perjalanan, peserta camping ceria membersihkan diri di kamar mandi.

Acara berlanjut dengan makan malam, dimana masing-masing kelompok peserta memasak bahan makanan untuk disantap rame-rame.

Selesai makan malam, acara dilanjutkan dengan perkenalan masing-masing kelompok dan juga hiburan.

Acara yang penuh keceriaan, apalagi ada salah satu peserta yaitu Mas Yono Ucup yang menampilkan stand up comedy. Bikin ngakak terguling-guling sampai ada peserta yang nangis dan berderai airmatanya, gak tahan ngeliat banyolan Mas Yono Ucup ini.

Setelah acara hiburan selesai, peserta beristirahat. Mayoritas tidur di tenda, tetapi ada juga yang gelar tiker dan tidur di luar tenda. Bahkan teman saya ada yang tidur di hammock.

Esok paginya, masing-masing kelompok sarapan dengan logistik yang tersisa. Kamipun sarapan dengan spaghetti yang dibuat oleh salah satu teman.

Menjelang siang sempat ada karaoke dari peserta camping lainnya. Mereka adalah Bapak-bapak dan Ibu-ibu alumni salah satu sekolah di Bogor. Dari kami pun ikut berpartisipasi untuk memeriahkan acara mereka.

Jpeg
Duo biduanita ikut berpartisipasi

Momen yang spesial karena disitulah ada rasa kebersamaan dan keceriaan.