Trip Seru ke Gunung Prau

Trip Seru ke Gunung Prau

Gunung Prau… kalo ingat nama itu bagai sebuah lelucon buat saya.

Bagaimana tidak? Kampung halaman saya ada di wilayah dekat Sukorejo-Kendal yang lokasinya sebenarnya tidak terlalu jauh dari gunung tersebut. Tapi selama bertahun-tahun lamanya saya belum pernah mendaki ke gunung tersebut.

Akhirnya kesempatan untuk menjelajah gunung tersebut datang juga. Bersama dengan teman-teman dari komunitas Backpacker Jakarta (BPJ) yang dikomandoi oleh trio CP yaitu mas Karlim, mas Momo dan Mbak Anna Amelia.

Sesuai rencana, trip sendiri akan dimulai dari base camp di Patak Banteng. Namun dalam perjalanan ke arah base camp tersebut ada kendala dikarenakan sedang ada pembangunan jembatan.  Sehingga arus transportasi dari dan menuju Patak Banteng  menjadi terputus.

Dua jalur jalan dari arah berlawanan menjadi semrawut, karena masing-masing kendaraan baik mobil pribadi, angkutan umum maupun angkutan barang dan ditambah pula dengan puluhan sepeda motor bertemu di jalan yang sempit. Alhasil bus dengan peserta trip di dalamnya terjebak di kemacetan parah selama sekitar satu jam lamanya.

P_20170902_102357
Macet total…

Karena bus tidak bisa melanjutkan perjalanan, maka sesuai kesepakatan bersama seluruh tas carrier dan bawaan lainnya akhirnya dikeluarkan dari bus untuk kemudian dibawa oleh masing-masing pemiliknya dengan berjalan kaki melewati konstruksi jembatan yang sedang dibangun.

P_20170903_152427
Suasana pembangunan jembatan menuju Patak Banteng

Bagi saya pribadi, hal tersebut tidak masalah karena sekaligus untuk pemanasan sebelum melakukan pendakian yang sebenarnya.

Setelah melewati konstruksi jembatan tersebut, peserta trip beserta tas carrier dan bawaan lainnya melanjutkan perjalanan, kali ini menggunakan bus ukuran 3/4. Tas carrier dan barang lainnya disatukan dan diikat pada bagian atap bus. Sedangkan peserta masuk ke dalam bus, tentunya dengan kondisi berdesak-desakan.

P_20170902_105542
Berdesak-desakan di dalam bus ukuran 3/4

Tak berapa lama perjalanan, akhirnya bus 3/4 tersebut tiba di desa Patak Banteng.  Sesampainya di base camp yang bernama “Azada Lesehan” kami pun beristirahat sembari mengisi perut.

Beberapa peserta trip ada yang menggunakan base camp lainnya untuk beristirahat dan juga mengisi perut.

P_20170903_141108

Azada Lesehan ini adalah rumah sederhana yang dikelola oleh Pak Ndarin bersama istrinya. Di dalamnya terdapat ruangan yang cukup untuk beristirahat dengan dilengkapi fasilitas kamar mandi dan  kamar untuk shalat. Di samping itu, base camp tersebut juga menyediakan makanan, souvenir dan juga oleh-oleh khas daerah setempat.

P_20170903_143539
Pak Ndarin beserta istri

Mbak Anna Amelia berinisiatif membuatkan nasi goreng untuk beberapa peserta trip. Saya pun memesan menu tersebut karena memang makanan tersebut adalah salah satu favorit saya jika travelling. Ternyata masakan yang dibuat oleh mbak Anna Amelia cukup enak, setidaknya saya bisa carbo loading sebelum mendaki.

Setelah beberapa orang mendapatkan masakan nasi goreng ala Mbak Anna Amelia,  istri Pak Ndarin baru tiba di rumah dan mengambil alih pekerjaan mbak Anna Amelia membuatkan nasi goreng.

Pendakian sendiri dimulai pukul 14.00 WIB, dengan melewati beberapa anak tangga di sekitar area base camp. Selama dalam jalur pendakian saya bertemu dengan Mbak Ida, sesama peserta trip BPJ yang dulunya pernah satu trip ke Banyuwangi. Kali ini mbak Ida melakukan trip bersama temannya yaitu mbak Astrid.

Semula saya bisa berjalan beriringan dengan kedua perempuan tersebut, namun di tengah perjalanan muncul masalah, ketika kaki kanan saya beberapa kali kram. Sehingga saya pun  tertinggal oleh mereka. Ketika saya berhasil menyusul mereka pada saat mereka beristirahat, tak berapa lama gantian kaki kiri yang kram. Sehingga beberapa kali saya menghentikan langkah untuk sekedar meluruskan dan meregangkan kaki.

Saya pun akhirnya harus berkompromi dengan kondisi saya dan berjalan perlahan-lahan menuju ke atas. Setelah dengan susah payah, akhirnya sampai juga di puncak Prau. Di tempat ini, saya kembali bertemu dengan Mbak Ida dan Mbak Astrid.

Ternyata kami bertiga mendahului peserta trip BPJ yang lain. Karena memang belum mendapat lokasi camping, maka kami pun segera berburu tempat tersebut. Hal itu dilakukan karena lokasi camping tentunya akan menjadi rebutan dengan kelompok pendaki yang lain, maklum saja peserta trip BPJ seluruhnya sekitar 34 orang. Jadi kamipun harus rebutan “lapak” untuk camping dengan kelompok pendaki lainnya.

Saya, dengan dibantu Mbak Ida dan Mbak Astrid akhirnya menemukan lokasi yang cocok serta langsung mendirikan tenda untuk kelompok pendaki kami. Tak berapa lama, peserta trip BPJ lainnya mulai berdatangan dan langsung juga mendirikan tenda.

Setelah mayoritas peserta trip sudah sampai di Puncak Prau, kesibukan di lokasi camping mulai terasa. Mulai dari ganti pakaian, hingga pada kegiatan memasak.

Lagi-lagi, mbak Anna Amelia menunjukkan kepiawaiannya dalam hal masak-memasak. Dia dan dibantu beberapa orang lainnya memasak untuk makan malam peserta trip.

Makanan pun disantap oleh peserta trip, tentunya dengan menu yang sederhana. Usai makan malam beberapa peserta ada yang langsung meringkuk ke dalam tenda, beberapa peserta lainnya ada yang sibuk berfoto-foto dengan background langit di malam hari. Maklum, bintang tampak begitu jelas di langit Puncak Prau. Suhu di puncak Prau sendiri lumayan dingin dan kadang disertai hembusan angin yang cukup kencang.

Pagi harinya, moment yang paling ditunggu oleh para pendaki yaitu menyaksikan sunrise. Semula saya tidak begitu berminat menyaksikan moment tersebut dan lebih menikmati menu sarapan pagi yang lagi-lagi dibuat oleh mbak Anna Amelia dengan dibantu teman-teman yang lain.

P_20170903_060241
Totalitas sang fotografer
P_20170903_060750
Pose mas Karlim dan mbak Yulia yang aduhai

Seusai sarapan, karena beberapa teman yang lain masih menikmati  moment sunrise, saya pun berubah pikiran dan bergabung dengan mereka untuk berfoto-foto. Selesai itu,  saya kembali ke area camping sembari menunggu peserta lainnya sarapan.

P_20170903_060950

Seusai sarapan, kami pun merapikan peralatan memasak setelah itu satu persatu tenda dibereskan dan dirapikan. Sekitar pukul 11.00 kami pun mulai turun gunung. Waktu tempuh hingga mencapai base camp sekitar 1 jam 45 menit, jauh berbeda dengan waktu yang saya butuhkan pada saat mendaki sampai ke puncak Gunung Prau yang memakan waktu sekitar 3 jam.

Di base camp Azada Lesehan, saya menikmati masakan nasi goreng yang kali ini dibuat oleh istri Pak Ndarin. Kebetulan saat itu ternyata ada juga kelompok kecil pendaki lain dari Jakarta yang sedang menggunakan rumah Pak Ndarin sebagai base campnya.

Dari informasi yang Pak Ndarin sampaikan rumahnya memang sering digunakan oleh para pendaki untuk singgah. Pernah suatu kali, ada rombongan dalam jumlah besar menginap di rumah Pak Ndarin, padahal Pak ndarin sendiri sempat menawarkan ke rombongan tersebut untuk menginap di tempat lain yang lebih layak tetapi mereka menolaknya. Mungkin mereka lebih nyaman tinggal di rumah Pak Ndarin.

Dengan keramahan dan kesederhanaan mereka Pak Ndarin dan istri, banyak orang yang akhirnya nyaman dengan rumah dan suasana di dalamnya serta kembali lagi ke tempat tersebut.

P_20170903_102216

Dari pendakian Gunung Prau, setidaknya saya mendapatkan pengalaman berharga untuk selalu siap dalam pendakian. Tiap gunung punya karakteristik tersendiri, gunung yang tak terlalu tinggi pun ternyata bisa membuat kram kedua kaki saya. 🙂

49 thoughts on “Trip Seru ke Gunung Prau

  1. Senengnya bisa mendaki gunung, aku mendaki bukit aja kaki langsung nyut2an, hehe

    Iri itu ketika, dari ketinggian ternyata alam tampak lebih indah, dan aku selalu di dataran rendah, hiks

  2. Memang bener sih, orang lokal kayak kita hampir bisa dipastikan malas dtg ke tempat wisata yg dekat sama kampung sendiri, kayak saya tinggal di kaki gunung lawu tapi belum pernah muncak ke lawu 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *