Kala para pehobi lari belajar Bantuan Hidup Dasar

Kala para pehobi lari belajar Bantuan Hidup Dasar

Bermula dari informasi yang dishare di grup WA tanggal 10 April 2018 tentang Pelatihan Bantuan Hidup Dasar dan P3K (Basic Life Support & First Aid Training) di Mayapada Hospital Tangerang, saya pun tertarik untuk mendaftar menjadi peserta. Dari informasi di grup WA juga disebutkan bahwa kuota hanya untuk 25 orang saja.

Saya pun sebenarnya mendaftar hanya coba-coba saja, diterima syukur, kalaupun musti angkat koper karena tereliminasi juga gak apa-apa, setidaknya sudah berusaha.

Pada tanggal 19 April 2018, saya mendapat japri WA dari Kang Riswandi bahwa saya terpilih untuk bisa mengikuti Pelatihan Bantuan Hidup Dasar dan P3K tersebut. Agak kaget juga sih sebenarnya, maklum saja karena ini adalah pelatihan gratis, tentunya para peminat yang ada di grup WA tersebut pasti banyak. Dari pengalaman yang sudah-sudah setiap event yang gratis pasti selalu dinanti dan diserbu oleh anggota grup WA.

Pelatihan ini sendiri adalah pelatihan yang kedua, hasil kerjasama antara Indorunners dengan Mayapada Hospital.

Pelatihan Bantuan Hidup Dasar dan P3K diselenggarakan tanggal 21 April 2018. Saya pun bergegas pagi-pagi untuk menuju Tangerang. Mayapada Hospital selaku tuan rumah menggunakan ruangan Ang Boen Ing Auditorium yang memang biasa digunakan sebagai tempat seminar.

Rupanya dari kuota 25 orang hanya sekitar 11 orang saja yang hadir di acara tersebut. Ada beberapa peserta yang wajahnya familiar, karena biasa latihan bareng di hari Minggu pagi yaitu Mas Oki, Mas Afif Gunung dan Mbak Andi.

Sebelum memulai acara, para peserta pelatihan diminta untuk mengisi form Test Pra Pelatihan tentang Bantuan Hidup Dasar dan P3K.

Pelatihan diawali dengan paparan prosedur keselamatan dari pihak Mayapada Hospital. Prosedur ini wajib diikuti saat situasi darurat seperti kebakaran dan gempa bumi.

Sebelumnya, saya pernah mendapatkan prosedur serupa saat  mengikuti kegiatan meeting di hotel. Rupanya hal yang sama saya dapatkan di Mayapada Hospital. Hal ini berarti rumah sakit ini memenuhi aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan baik.

Materi selanjutnya adalah paparan mengenai cuci tangan sesuai standar World Health Organization (WHO). Sesuai informasi yang diberikan bahwa cuci tangan dengan sabun setidaknya harus selama 60 detik sedangkan dengan bahan beralkohol setidaknya selama 30 detik. Sesuai standar WHO, ada 8 gerakan dalam mencuci tangan, dimana tiap gerakan harus dilakukan 4 kali.

Narasumber pertama yaitu dokter Sri Wismo Adi memberikan materi tentang Bantuan Hidup Dasar. Ini adalah materi utama dan sangat penting sehingga harus dikuasai oleh peserta.

Salah satu informasi yang disampaikan dokter Sri Wismo Adi adalah hipoksia, yaitu kondisi dimana kekurangan oksigen yang bisa berakibat fatal pada otak.

Dokter Sri Wismo Adi Saat juga menyampaikan bahwa ketika ada seseorang yang butuh pertolongan maka kita harus memastikan situasi aman. Jika situasi tidak aman, jangan melakukan pertolongan. Contoh situasi yang tidak aman adalah :

  1. Tempat basah dan ada aliran listrik.
  2. Di tengah jalan, karena harus dipinggirkan ke tepi jalan.
  3. Daerah yang rawan longsor.

Minta bantuan secepatnya karena terkait dengan peluang hidup seseorang dalam hitungan menit.

Di samping itu, jangan melakukan pertolongan lanjutan oleh diri sendiri, karena tindakan pertolongan lanjutan itu seharusnya dilakukan oleh tim medis.

Dokter Sri Wismo Adi memberikan contoh praktek Bantuan Hidup Dasar yaitu Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau disebut juga Cardiopulmonary resuscitation (CPR). Ratio RJP adalah 30 : 2, artinya tiap 30 tekanan di dada korban diberikan 2 bantuan nafas.

Posisi dada korban yang akan mendapatkan tekanan adalah kira-kira dua jari di atas pangkal tulang dada, tepatnya diantara dua puting. Posisi kedua tangan pada saat RJP harus lurus, tidak boleh ditekuk.

Dalam melakukan RJP, terdapat 5 siklus, dimana dalam satu siklus ada 30 kali  tekanan di dada korban.

Kedalaman tekanan ke dada korban adalah 5 cm. Pada saat melakukan bantuan nafas, hidung korban ditutup dan dagu korban agak ditarik kebawah, sehingga mulut korban dapat terbuka dengan baik.

Jika dalam 5 siklus tidak ada tanda-tanda baik nafas maupun denyut nadi korban, ulangi 5 siklus tersebut hingga 20 menit. Jika dalam 20 menit tetap tidak ada perkembangan maka hentikan tindakan, apalagi jika korban sudah ada tanda kematian,  seperti :

  1. Bibir berwarna biru.
  2. Lebam mayat, yaitu tanda biru yang muncul pada bagian-bagian tubuh tertentu.

Materi kedua disampaikan oleh dokter Putu Karsiani Sp. KFR yaitu tentang Penanganan Cedera Muskuloskeletal.

Menurut dokter Putu Karsiani Sp. KFR, penyebab cedera adalah :

  1. Kecelakaan.
  2. Teknik yang salah.
  3. Pemanasan yang kurang.
  4. Peralatan olahraga yang kurang memadai.

Secara umum, cedera dibagi menjadi dua yaitu :

  1. Strain, yaitu cedera yang terjadi pada otot.
  2. Sprain, yaitu cedera yang terjadi pada ligamen.

Dalam cedera, terdapat remodelling yaitu fase pemulihan, yang umumnya di atas 6 minggu. Dokter Putu Karsiani Sp. KFR juga menyampaikan bahwa dalam pemulihan cedera jangan sampai ada improperly healing yaitu penyembuhan yang sudah dilakukan tetapi tidak sempurna.

Menurut Dokter Putu Karsiani Sp. KFR, pada bagian leher terdapat tulang vertebra yang apabila cedera bisa melumpuhkan tubuh seseorang.

Penanganan cedera dapat dilakukan dengan metode Rest, Ice, Compression and Elevation (RICE).

Rest dilakukan dengan mengistirahatkan bagian yang cedera.

Ice adalah pemberian es pada bagian yang cedera. Pada saat ice-ing, es dimasukkan ke dalam plastik dan gunakan handuk, sehingga es tidak langsung bersentuhan dengan kulit.

Compression adalah memberikan perban khusus pada bagian yang cedera agar tidak terjadi pembengkakan. Dalam melakukan balutan di bagian yang cedera harus tidak terlalu ketat karena dapat mengakibatkan kondisi Compartment Syndrome yaitu pembuluh darah menjadi tidak lancar karena compression yang terlalu ketat.

Elevation adalah memposisikan bagian yang cedera lebih tinggi dari pada jantung. Misalnya cedera pada kaki, maka pada saat berbaring, posisi kaki harus lebih tinggi dari jantung.

Seringkali pada saat tidur kita mengalami kram pada kaki padahal kita tidak melakukan aktifitas apapun. Hal ini disebabkan karena posisi telapak kaki yang flexi selama tidur sehingga perlu dilakukan stretching untuk menormalkan kembali.

Dari pengalaman Dokter Putu Karsiani Sp. KFR bagian tubuh yang sering dislokasi adalah pangkal lengan.

Materi ketiga disampaikan oleh dokter Susanti yaitu tentang Pembalutan/Pembebatan Pembidaian.

Pembalutan bertujuan antara lain untuk :

  1. Menghindari agar kuman tidak masuk pada luka.
  2. Menghindari pergerakan dan juga mengurangi nyeri.

Peralatan yang dibutuhkan secara umum adalah :

  1. Kain kasa steril.
  2. Balutan cepat.
  3. Balutan gulung.
  4. Kain segitiga (mitella).

Bidai adalah alat yang dipakai untuk mempertahankan kedudukan tulang yang patah. Tujuannya untuk mencegah pergerakan tulang yang patah. Bidai yang ada di rumah sakit/klinik biasanya ada tiga sisi untuk membuat fixed bagian tubuh yang patah.

Jika tidak ada bidai atau potongan kayu dan semacamnya untuk membidai, maka bisa menggunakan potongan kardus yang dibentuk sedemikian rupa kemudian dibalut dengan mitella.

Dalam keadaan darurat, selama belum dilakukan MRI dan CT Scan, maka mitella dan potongan kardus tersebut tidak boleh dilepas.

Peragaan tentang pembalutan dilakukan oleh dokter Sri Wismo Adi , dokter  Melvin Junius dan beberapa perawat pada kepala, tangan, pergelangan tangan, dada serta di lutut. Selain itu ada juga peragaan tentang pembidaian kaki dan tangan.

Materi selanjutnya disampaikan oleh dokter Melvin Junius yaitu Heat-Related Illnesses.

Suhu udara yang panas bisa mengakibatkan cedera. Cedera akibat panas yang paling berat adalah heat stroke.

Sering kali kalau kita berolahraga terdapat salty sweater, yaitu kondisi dengan ciri-ciri :

  1. Mata perih.
  2. Kalau ada luka akan terasa lebih perih.
  3. Strip/tanda putih pada baju yang dipakai.

Pada saat berlari, darah berkumpul di bagian kaki (blood pooling) sehingga peredaran darah ke otak menjadi berkurang akibatnya orang tersebut bisa kehilangan keseimbangan.

Cara penanganan saat heat stroke :

  1. Bawa korban ke tempat yang teduh.
  2. Jangan ada kerumunan orang di sekitar korban karena akan mengurangi suplai oksigen.

Pada saat heat stroke, mekanisme keluarnya keringat sebagai cara untuk menstabilkan suhu tubuh tidak bekerja.

Dokter Melvin Junius juga menyampaikan materi terakhir yaitu tentang Evakuasi dan Transport Korban.

Pada saat ada korban, jangan melakukan hal yang lebih fatal. Dalam hal ini amankan leher korban, dikarenakan apabila salah penanganan pada leher yang cedera bisa berakibat fatal.

Dalam keadaan normal tim medis mempunyai alat standar untuk melakukan evakuasi dan transport korban yaitu tandu.

Dalam membawa tandu, jumlah orang yang mengangkat tandu sebaiknya genap. Proses mengangkat tandu harus dilakukan bersama-sama. Untuk itu diperlukan kapten/pemimpin yang posisinyai berada di sisi belakang.

Pada saat evakuasi transport korban, ada istilah log roll. Istilah ini digunakan karena seolah-olah tubuh manusia berbentuk seperti sebatang kayu utuh (log).

Cara melakukan log roll :

Posisi penolong pertama sebagai pemimpin/kapten yang mengamankan leher dengan mengapit kedua sisi kepala hingga leher dengan secara erat dengan tangan sehingga tidak ada pergerakan yang membahayakan leher. Posisi kedua telapak tangan berada di pundak korban untuk membalikkan kepala dan pundak secara bersamaan.

Penolong ke-2 dan ke-3 berdampingan di bagian badan dan kaki korban dengan posisi tangan penolong ke-2 dan ke-3 yang berimpitan dibuat bersilangan.

Aba-aba atau hitungan saat melakukan log roll dilakukan oleh pemimpin/kapten dan log roll dilakukan secara serempak oleh pemimpin/kapten, penolong ke-2 dan penolong ke-3.

Cara memindahkan korban pada saat korban berada di permukaan datar, seperti lantai rumah/gedung adalah dengan menggunakan lembaran kain, selimut atau semacamnya. Lembaran kain tersebut diletakkan di sisi bawah badan korban. Kemudian sisi selimut di bagian kepala korban ditarik pelan-pelan. Cara ini hanya bisa dilakukan kalau penolong hanya seorang diri tetapi beresiko bagian leher dan punggung korban menjadi tidak fixed.

Cara lainnya apabila hanya ada satu orang penolong dan korban berada dalam posisi terancam keselamatan dan nyawanya. Cara ini hanya untuk situasi darurat dan tidak ada pilihan lain.

Yaitu dengan cara memanggul korban di kedua sisi pundak penolong

Proses evakuasi dan transport korban tersebut diperagakan oleh para dokter dibantu dengan para perawat.

Siang harinya, para peserta pelatihan diberikan waktu untuk berlatih Bantuan Hidup Dasar, Pembalutan/Pembebatan dan Pembidaian serta Evakuasi dan Transport Korban tentunya dibawah pengawasan para dokter dan para perawat.

Bersama Mbak Caroline dan Pak Petrus

Karena peserta hanya berjumlah 11 orang, maka ketika dibagi menjadi tiga kelompok, ada yang berisi 4 orang dan ada juga yang hanya 3 orang saja. Kebetulan kelompok saya yang kebagian 3 orang yaitu saya sendiri, mbak Caroline dan Pak Petrus.

Alat-alat yang disediakan oleh pihak Mayapada Hospital sangat lengkap termasuk alat peraga untuk RJP. Alat tersebut berbentuk badan manusia dan didesain sedemikian rupa sehingga terhubung dengan alat elektronik yang dapat mengecek ketepatan posisi tangan dan kekuatan tangan saat melakukan RJP.

Tiap peserta pelatihan harus bisa memperagakan bantuan pernafasan melalui mulut ke alat peraga berbentuk manusia tersebut. Jika bantuan pernafasannya tepat maka udara yang dihembuskan dari mulut peserta ke mulut alat peraga tersebut akan membuat dada alat peraga tersebut langsung mengembang.

Jangan khawatir jijik dan risih, karena sebelum digunakan oleh peserta pelatihan berikutnya, mulut alat peraga tersebut sudah dibersihkan menggunakan Steril Alcohol Swabs, yaitu sachet berisi tisu yang mengandung alkohol.

Jadi, kami pun melakukan latihan dan juga nantinya ujian untuk bantuan pernafasan tersebut dengan nyaman.

Setelah cukup berlatih, maka para dokter melakukan penilaian terhadap peserta dalam ujian Bantuan Hidup Dasar.

Adapun cara melakukan Bantuan Hidup Dasar pada korban adalah :

  1. Pastikan keadaan aman

Keadaan aman baik untuk diri penolong sendiri dan juga lingkungan yang aman.

  1. Cek respons korban

Pengecekan dapat dilakukan dengan memanggil korban, apabila korban tidak menjawab maka tepuklah pundak korban.

Jika masih tidak bereaksi maka lakukan stimulasi rasa sakit/nyeri korban.  Caranya dengan mengepalkan salah satu tangan dan ruas jari tengah yang ditekuk berada agak keluar, digunakan dengan cara menekan dan memutar pada sensor nyeri korban. Adapun sensor nyeri korban terletak pada tonjolan dada bagian atas.

  1. Cek pernafasan dan nadi di leher korban selama 10 detik
  2. Panggil bantuan
  3. Lakukan RJP 30 : 2 sebanyak 5 siklus

Jika tidak ada perubahan, ulangi RJP tersebut hingga 20 menit.

  1. Cek kembali pernafasan dan nadi di leher korban  selama 10 detik

Jika sudah ada tanda pernafasan dan nadi korban maka korban ada tanda kehidupan.

  1. Jika korban sudah sadar, buat korban dalam posisi sempurna

Posisi sempurna adalah memiringkan badan korban ke posisi kiri. Tangan kiri menjadi bantalan kepala, sedangkan untuk posisi kaki kiri agak ditekuk.

Setelah ujian Bantuan Hidup Dasar selesai, para peserta pelatihan diminta untuk mengisi form Test Pasca Pelatihan tentang Bantuan Hidup Dasar dan P3K. Materi test-nya sebetulnya sama dengan form Test sebelumnya dan digunakan untuk mengevaluasi kemampuan peserta dalam memahami materi pelatihan.

Pelatihan yang diselenggarakan hasil kerjasama Indorunners dan Mayapada Hospital sangat berguna karena untuk pengetahuan dalam menghadapi situasi darurat. Semoga pelatihan tersebut dapat diperbanyak lagi di masa yang akan datang.

82 thoughts on “Kala para pehobi lari belajar Bantuan Hidup Dasar

  1. Saya registrasi, tapi tidak diundang, alias tidak lolos seleksi. Semoga di lain kesempatan bisa lolos & ikut menjadi peserta.

  2. Assalamualaikum Mas Ris, Saya sempat beberapa kali mengikuti training serupa. Melihat fisik saya, biasanya instruktur meragukan kemampuan saya.
    Btw.. Mas, materi ini sebagus ini di QT kan untuk Kubbu atuh.. Haturnuhun

    1. Bagian yang terberat itu saat melakukan evakuasi korban dengan cara memanggul korban. Dan ternyata yang saya panggul berat badannya 80 kg, sedangkan berat saya tidak mencapai sejumlah itu. Alhasil cuma kuat beberapa langkah.
      Untuk jadi meteri QT, sepertinya saya masih newbie mbak, harus orang yang punya pengalaman lebih…

  3. Tiba-tiba teringat mantan RT di lingkungan saya yang meninggal setelah sebelumnya kolaps setelah jogging dan berlatih bulu tangkis. Ternyata kegiatan berolah fisik juga rentan terhadap bahaya kematian yah, terima kasih buat informasi first aid yang rinci sekali ini, Mas Ris.

  4. Mantap..
    Tapi mesti ikut latihannya langsung nih biar bisa ngerasain feelnya. Setidaknya jd punya bekal dan persiapan jika terjadi situasi darurat..

    1. Iya, harus praktek langsung biar caranya tepat terutama yang Bantuan Hidup Dasar karena terkait dengan nyawa seseorang.

  5. Saya pernah training seperti ini di tempat kerja saya dulu..
    Tapi ketika menghadapi kejadian yang sebenarnya panik juga..
    Mesti ditraining lagi nih..

  6. Materi pelatihannya penting2 tuh. Baca tulisannya udah kayak pembicara pelatihan yg lagi bicara aja. Sayang ga dapat info, padahal deket tuh.

  7. Pelatihan ini sangat berguna ketika menghadapi situasi yang tidak terduga, semoga ketika menghadapi kejadian yang sebenarnya bisa langsung mengaplikasikan ilmunya

  8. Makasih mas ris infonya.. bagus banget ini dan lengkap sekali..
    Btw saya suka cuci tangan tapi asal aja.. ternyata ada waktu dan caranya.. 🤔🤔 dan bener banget nih saya pernah beberapa kali pas bangun tidur tiba2 kram kaki.. lah ini sakitnya kek apa tahu.. huhuhu..

  9. Dulu jaman kuliah dan diklat organisasi pecinta alam pernah diajarin Mas, pokoknya lengkap banget kayak artikel Mas Ris ini. Tapi pas pernah ngeliat di kehidupan nyata, ilmu yang pernah diajarin kok mendadak minim banget ya… mau nolong takut salah karena menyangkut nyawa orang gitu.

  10. Mas Ris lengkap banget infonya. Ini berguna sekali bagi orang yang mudah panik seperti saya, kalau ada info pelatihan lagi, mau ya Mas, lumayan buat tambah ilmu

  11. Wah.. terima kasih infonya. Jadi tahu tentang pelatihan Bantuan Hidup.
    Boleh tahu gak ya.. lebam pada mayat di bagian tubuh mana saja?
    Di paragraf di atas tidak dijelaskan.

  12. Keren Mas Rist ilmunya dan di dokumentasikan dalam tulisan ini agar tidak hilang dan bisa bermanfaat buat banyak orang dan saya sendiri jadi tahu apa yg harus dilakukan kalau keadaan darurat kayak gini

    1. Kalau mas Agus pasti sudah expert dalam hal ini. Kan sudah sering jadi instruktur pelatihan semacam ini.

  13. Ya Allah mas Ris, aku jd nostalgia masa2 pendidikan dasar KSR..RJP, prinsip AbC, pernafasan buatan, evakuasi tandu, dll..kangeeen latihan P3K jadinya..wkwkwk

  14. Mas Ris infonya lengkap banget, haha
    Pas sesi ini mas Ris ngrekam atau gimana? Kok inget sampai detail banget.

    Tapi berkat ini, aku jadi tau, harus ngapain kalau terjadi cidera.

  15. Bermanfaat nih Mas ilmunya. Klo ada pelatihan lagi berminant ikut aku. Pernah di kasih tau RICE saat cidera otot sama Kapten. Tapi lupa penjelasannya. Dengan artikel tadi jadi ingat kembali.

  16. Wah, aku pernah bikin artikel ttg cara menolong orang kecelakaan kayak gini. Tapi justru belum pernah ikut pelatihannya. Padahal penting nih, untuk jaga2 kalau ada kondisi darurat.

  17. Terkakhir kali belajar kayak begini pas jadi panitia ospek. Dan tentu saja sudah lupa. Terima kasih, Mas Ris atas infonya yang lengkap. Cuma kadang, kalau situasi kalau gitu, seringkali dihadapkan rasa panik dan trus lupa deh sama teori-teori teknik penyelematan.

    1. Betul mbak, pada saat pelatihan mungkin kita bisa tenang melakukannya. Tapi di situasi nyata, belum tentu demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *