Deru dan Debu di Pendakian Gunung Sumbing

Deru dan Debu di Pendakian Gunung Sumbing

Setelah sekian lama mengistirahatkan sepatu dan peralatan mendaki gunung, akhirnya ada kesempatan untuk comeback ke pendakian di atas 3000 mdpl. Saya mendapatkan informasi bahwa ada pendakian ke Gunung Sumbing untuk tanggal 3-5 Agustus 2018 di salah satu grup WA trip BPJ. Harap maklum, saya sudah lama banget tidak menjejakkan kaki di gunung yang tingginya di atas 3000 mdpl. Kalau saja bisa bicara, kedua kaki ini  pasti protes kapan lagi nanjak gunungnya. Lebay yaa hahaha….

Sejak akhir tahun 2017, ini pendakian pertama saya di gunung tertinggi nomor 3 di pulau Jawa ini. Terakhir saya mendaki di atas 3000 mdpl, saat ada Jambore Consina Nasional (Jamconas) II di akhir tahun 2017 yang lalu. Jamconas II sendiri dihadiri oleh banyak peserta dan komunitas. Yang terbanyak mengirimkan peserta, tentu tidak lain dan tidak bukan adalah dari Backpacker Jakarta (BPJ). Sekitar 50 orang dari BPJ tumplek blek di Merbabu. Bisa dibayangkan, udah kaya bedol desa tuh pendakian.

 

Tujuh Purnama

Tak dinyana, akhirnya saya bertemu kembali dengan 4 orang peserta Jamconas II lainnya. Duo pendaki hits yaitu Bang Inu dan Bang Vikry  kali ini menjadi Contact Person (CP).

Mas Dimas, adalah peserta yang ketiga. Saya sempat satu trip dengan Mas Dimas ini saat pendakian tektok ke Bongpalem beberapa waktu yang lalu. Peserta terakhir yang merupakan eks Jamconas II adalah Nia. Cewek berkacamata ini biarpun imut tapi suka ngacir kalau di pendakian. Kecil-kecil cabe rawit lah.

Jadilah trip ke Gunung Sumbing ini serasa reuni lima peserta Jamconas II setelah tujuh purnama yang berlalu.

Banyak bangku yang kosong

Keberangkatan dari meeting point di Sekretariat BPJ sekitar pukul 21.20. Agak sedikit kaget juga karena bus yang kami tumpangi ternyata kapasitasnya lebih banyak dari jumlah peserta. Jumlah peserta trip kali ini adalah 32 orang namun ternyata banyak banget bangku yang kosong. Sampai ada tiga bangku yang digunakan oleh satu peserta buat selonjoran sekaligus tiduran. Enak tenan….

Kalau boleh usul, sering-sering saja nih trip BPJ menggunakan bus yang kapasitas bangkunya lebih banyak hehehe…

Sebelum trip, kedua CP sudah membagi peserta menjadi lima kelompok. Kebetulan saya ada di Kelompok 4, bersama Kiki, Bani, Mei dan Bang Haryono. Dari empat peserta ini, hanya Kiki yang saya kenal karena pernah satu trip saat pendakian ke Gunung Merapi.

Dalam perjalanan ke arah Wonosobo, karena tidak memungkinkan berangkat dari Jakarta, ada peserta yang menunggu bus di tengah perjalanan. Salah satunya adalah Kiki ini, maklum saja rumahnya ada di planet sebelah.

Tidak cuma Kiki, rupanya Bang Inu dan satu orang temannya juga menunggu bus di daerah Cikampek sonoan dikit.

Perjalanan rupanya melebihi 12 jam dari yang seharusnya dijadwalkan. Hal ini dikarenakan laju bus terhambat saat berada di daerah Bekasi dan sekitarnya. Sepertinya sedang ada pembangunan LRT dan juga perbaikan fasilitas jalan raya.

Tiba di basecamp Gunung Sumbing sekitar pukul 11.00 siang, peserta trip lalu melakukan packing ulang untuk pendakian nanti. Setelah itu, kedua CP melakukan briefing untuk pendakian nanti kepada seluruh peserta.

Briefing oleh CP

 

Deru Motor

Sesuai informasi dari CP, bahwa pendakian ke Gunung Sumbing ini melalui jalur Garung. Untuk mencapai Pos I, disarankan seluruh peserta menggunakan ojek motor.

Deru suara motor datang silih berganti untuk membawa para pendaki. Kalau saya ingat situasi naik ojek motor saat itu, rasanya bikin deg-degan.

Yang pertama, jalur ke Pos I adalah jalan berbatu yang di beberapa titik ada jurangnya. Yang kedua, baik tukang ojek maupun penumpangnya tidak memakai helm. So, nasib penumpang ada di tangan tukang ojek. Kalau sampai jatuh, tukang ojek, penumpang, maupun tas kerilnya bakalan nyungsep bareng.

Motor yang mogok

Apesnya, motor yang saya tumpangi mesinnya mati di tengah perjalanan. Info dari Bapak tukang ojek bahwa ada masalah dengan olinya. Akhirnya saya kemudian dioper ke tukang ojek lainnya untuk sampai ke Pos I.

Tapi dibalik itu semua, ada hikmahnya juga trip ini. Selama perjalanan ke Pos I, bisa dipastikan peserta banyak yang istighfar atau baca ayat suci sesuai agamanya masing-masing.

Yah, setidaknya pada ingat Tuhan-nya, selama di perjalanan bareng tukang ojek wkwkwkw…

Oh iya, untuk biaya naik ojek, peserta wajib bayar Rp. 25.000 tunai. Jangan pake kartu debit, kartu kredit atau malah ninggalin KTP.

Dari Pos I, pendakian yang sesungguhnya pun dimulai. Di perjalanan, rupanya terdapat warung yang menjual makanan dan minuman ala kadarnya. Setidaknya hal itu bisa berguna buat pendaki untuk melepas lelah dan mengisi perut.

Setelah beristirahat di warung, Kiki, Nia dan salah satu peserta lainnya yaitu Aziz, melanjutkan perjalanan. Saya pun kemudian menyusul mereka bertiga.

Sepatu pun mblesek ke dalam timbunan debu

Jalur Berdebu

Jadilah kami berempat berada di barisan paling depan pendakian ini. Setelah beberapa saat, kami tiba di jalur pendakian yang berdebu. Saya yang memang sudah menyiapkan masker, tetap saja kerepotan untuk mengatasi debu-debu yang beterbangan. Hal ini dikarenakan setiap kaki menginjakkan tanah, debu langsung tertiup angin kemana-mana. Di beberapa titik, sepatu sampai mblesek ke dalam timbunan debu.

Pendaki harus berjuang ekstra, di samping berdebu jalur pendakian juga lumayan sulit.

Nia dan Kiki, cewek-cewek pendaki tangguh

Saya, Nia, Kiki dan Aziz, akhirnya beristirahat saat mendekati area camping. Hal itu karena menunggu Bang Vikry untuk memutuskan sisi area camping yang akan digunakan. Sembari menunggu, kami pun menikmati nasi bungkus dan logistik yang dibawa.

Saya cukup salut dengan Nia dan Kiki karena biarpun mereka ini cewek, tapi sangat tangguh dalam pendakian. So, buat kamu-kamu para pendaki BPJ, kalau kebetulan di tripnya ada nama salah satu dari mereka, hampir bisa dipastikan, cewek-cewek ini yang paling cepet nyampe di puncak dan enggak bakal nyusahin di pendakian nanti. Ibarat iklan produk pemurni air, mereka sudah lolos uji di IPB dan ITB tsaaah…..

Tak lama kemudian, Bang Vikry, Mas Dimas dan peserta lainnya muncul. Setelah berdiskusi, akhirnya diputuskan menggunakan area camping Pestan.

Dengan segera, kami pun bergerak ke lokasi yang memang sudah tidak jauh dari tempat kami beristirahat tadi. Tiba di lokasi sekitar pukul 17.00, jadi durasi pendakian dari basecamp sekitar empat jam.

Tenda mas Dimas menjadi tenda pertama yang didirikan. Kalau dilihat dari fisiknya, tenda ini keliatan baru, karena masih mulus banget. Setelah itu, giliran tenda saya yang didirikan dengan dibantu oleh beberapa orang.

Di Pestan sendiri terdapat warung yang menjual makanan dan minuman untuk pendaki. Beberapa orang porter juga ada di warung ini dan bisa digunakan jasanya oleh pendaki.

Warung ini juga dilengkapi dengan genset, makanya jangan kaget kalau ada penerangan listrik plus suara musik terdengar jelas karena memang ada sound systemnya. Kalau mau dengerin lagu dangdut koplo, lagu Sabyan atau jenis musik lainnya, tinggal gunakan saja fasilitas di warung tersebut. Keren kan…

Satu per satu peserta lainnya mulai berdatangan dan langsung mendirikan tenda. Saya yang sudah berada di tenda, kemudian beristirahat sebentar dengan tiduran, sekedar untuk meluruskan badan.

Malam harinya, beberapa orang, termasuk CP dan pendaki perempuan memasak logistik yang ada untuk makan malam. Sebenarnya saya enggan untuk makan malam karena sudah ngemil keripik saat di dalam tenda tadi, tapi atas masukan Bang Inu bahwa peserta harus makan malam walaupun sedikit. Akhirnya saya pun makan malam dengan beberapa suap saja.

 

Summit

Setelah makan malam peserta kemudian beristirahat di tenda masing-masing. Pada pukul 02.00 peserta harus sudah bangun untuk melakukan persiapan menuju puncak. Selain memasak logistik yang ada, persiapan juga dilakukan dengan menggunakan pakaian lengkap untuk pendakian, dikarenakan cuaca cukup dingin saat itu.

Perjalanan ke puncak gunung pun dimulai pukul 03.00 dengan menyusuri jalur yang ada dengan menggunakan headlamp dan lampu senter.

Kebetulan, saya, Nia, Kiki, Mas Dimas dan Bang Epen berbarengan saat perjalanan menuju puncak tersebut. Beberapa peserta trip lainnya ada yang tiba lebih dulu di Puncak. Kami sendiri summit di Gunung Sumbing sekitar pukul 07.00.

Setelah berfoto-foto sepuasnya, saya dan beberapa peserta lainnya akhirnya turun kembali menuju ke area camping.

Di tengah perjalanan, rupanya kami bertemu dengan duo CP, mereka ini sedang masak-masak bersama-sama peserta lain yang memang tidak bisa summit. Padahal tadinya CP mau ikutan summit, tapi mereka malah cuma sampai di tengah perjalanan saja. Yang bikin kaget, dari area camping, Bang Vikry cuma memakai sandal biasa untuk summit. Sandal biasa lho ya, bukan sandal gunung apalagi sepatu gunung.

Entah Bang Vikry ini lagi berhalusinasi atau pingin uji kekuatan kakinya, hanya Tuhan yang tahu.

Selama perjalanan turun ke area camping, akan terlihat dengan jelas kondisi jalur yang dilalui saat gelap tadi. Rupanya banyak jalan berdebu dilalui oleh peserta dan tidak diketahui karena suasana yang gelap. So, buat peserta yang saat summit tidak memakai masker/buff, sudah pasti menghirup debu dalam setiap tarikan nafasnya.

Selain jalan berdebu, rupanya jalur untuk summit juga banyak melewati tebing-tebing bebatuan yang cukup besar.

Perjalanan turun ke area camping, sekitar dua jam lamanya. Sesampainya di tenda, lagi-lagi saya istirahat untuk sekedar meluruskan badan, eh lama-lama ketiduran.

Peserta yang tidak ikut summit memasak sisa logistik yang ada. Rupanya, peserta hanya makan sedikit saja untuk persiapan turun gunung nanti. Alhasil, makanan berlimpah dan sisa banyak.

Setelah semua peralatan pendakian dibereskan, satu per satu peserta pun bergegas turun gunung. Kebetulan saya berada di rombongan belakang bersama Bang Vikry dan Bang Epen.

Saat berada kembali di jalur yang berdebu, kedua orang ini bersama dua orang pendaki dari komunitas lain, nyobain turun sambil berlari. Bisa dibayangin gimana situasinya? Mata, hidung, wajah dan tentunya pakaian terkena debu yang beterbangan. Gak apa-apa sih, itung-itung buat kenang-kenangan, karena kebetulan saya merekam videonya.

Selama perjalanan turun, saya bertemu dengan Mas Dimas, Bani, Mei dan beberapa pendaki lainnya. Perjalanan mereka untuk turun terhenti karena ada salah satu dari mereka yang merasa dompetnya jatuh atau hilang, entah benar atau tidak. Akhirnya Mas Dimas dan Bani, berusaha membantu peserta tersebut.

Sedangkan Mei dan satu pendaki cewek lainnya bersama saya, memutuskan jalan duluan. Beberapa saat setelah perjalanan turun, Bani berhasil menyusul dan akhirnya mereka beristirahat. Saya sendiri tetap bergegas turun karena ingin cepat sampai ke basecamp.

Menjelang sampai di Pos I, Mas Dimas rupanya berada tidak jauh di belakang saya. Untuk sampai ke basecamp, pendaki kembali menggunakan ojek motor. Kali ini saya wanti-wanti ke Bapak tukang ojek, agar saat turun nanti memakai rem.

Bukan tanpa dasar saya meminta hal tersebut, saat naik ojek dari basecamp ke arah Pos I, saya berpapasan dengan para tukang ojek yang meluncur tanpa penumpang dari arah Pos I ke basecamp. Mereka melaju sangat kencang, ada kemungkinan mereka tidak memakai rem saat itu.

Wajah dan pakaian yang penuh debu

Belajar dari pengalaman pendakian Gunung Sumbing, ada baiknya peserta menyiapkan buff/masker yang memadai. Hal ini dikarenakan terkadang debu masih tetap terhirup.

Satu lagi, tidak usah dandan cantik-cantik kalau mendaki gunung ini. Contohnya saja Si Mei, sudah memakai buff, tetap saja wajahnya cemong saat sampai di basecamp. Yah, anggap saja wajah terkena bedak alami di gunung.

 

Ok, cukup sampai di sini tulisan saya ini, sampai jumpa di trip atau pendakian berikutnya…

 

8 thoughts on “Deru dan Debu di Pendakian Gunung Sumbing

  1. Penulisan tentang perjalanan yang cukup rapi dan personal, tapi nggak bertele-tele. We need more article like this.

    “Deru suara motor datang silih berganti untuk membawa para pendaki. Kalau saya ingat situasi naik ojek motor saat itu, rasanya bikin deg-degan.”… pemanasan untuk menaikkan detak jantung biar nggak kaget pas mulai trekking yah, Mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *