Berpikir Kreatif

Berpikir Kreatif

Apakah Anda dalam menyelesaikan beberapa  pekerjaan, dilakukan  secara berurutan dan sistematis? Kalau jawabannya iya, berarti Anda kemungkinan mempunyai kesamaan dengan saya, yaitu aktif di otak kiri.  Orang yang aktif di otak kiri punya kecenderungan menyelesaikan satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya secara berurutan satu per satu. Hal yang berbeda dengan orang yang aktif di otak kanan, mereka cenderung menyelesaikan pekerjaan secara lompat-lompat alias acak. Di samping itu, orang yang aktif di otak kiri umumnya menyukai analitis dan hal-hal logis, sedangkan orang yang aktif di otak kanan biasanya mempunyai ketertarikan  dengan kreatifitas dan juga seni. Saya sendiri bukan hanya aktif di otak kiri tetapi juga dominan banget. Bisa dibilang karena faktor dominan di otak kiri ini, saya hanya punya sedikit sense of art.

Sumber : jadiberita.com

Padahal, seseorang atau sebuah perusahaan bukan cuma membutuhkan kemampuan analitis saja, tetapi juga perlu kreatifitas.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan waralaba Amerika yang terkenal dengan makanan Italianya. Perusahaan ini selalu membuat menu baru setiap beberapa bulan sekali dan seringkali kita lihat tayangan iklan menunya di televisi.

Hal yang sama juga dilakukan oleh perusahaan waralaba makanan dari Amerika lainnya. Selain mereka membuat menu baru, bahkan juga membuat terobosan dengan membuat semacam tempat bermain anak.

Contoh lainnya, salah satu bank swasta nasional yang cukup terkenal, melakukan pelayanan yang lebih personal, khususnya dalam melayani nasabahnya. Dari mulai petugas security bank sudah menyapa dan menawarkan bantuan kepada nasabahnya ketika nasabah tersebut baru memasuki  bank. Saat nasabah menunggu antrian, ada staf khusus dari bank yang datang menghampiri dan memberikan bantuan kepada nasabah yang bersangkutan dengan sangat profesional.

Dari contoh-contoh di atas, berpikir kreatif akan menghasilkan inovasi di bidang produk dan jasa. Inovasi-inovasi inilah yang dibutuhkan untuk survive dan menjawab selera pasar serta mengikuti perkembangan zaman.

 

Tentang kreatifitas ini, saya baru menyadari pentingnya hal tersebut saat mendapat masukan dari Mbak Tuty Prihartiny, psikolog yang juga anggota Klub Buku dan Blogger (Kubbu) Backpacker Jakarta. Mbak Tuty ini memang selalu berbaik hati untuk memberi input positif kepada anggota Kubbu. Bahkan, Sang psikolog ini sering menjadi tempat konsultasi (lebih tepatnya curhat sih) oleh anggota Kubbu. Jika Anda kebetulan anggota Kubbu, bisa jadi termasuk diantaranya hehehe…

Ada satu orang lagi yang mengetahui bahwa saya dominan di otak kiri, yaitu Mbak Diah Sally, seorang Master of Ceremony (MC) yang juga sesama anggota Kubbu. Dia punya metode unik untuk mengetahui karakter seseorang berdasarkan penjumlahan tanggal lahirnya. Metode ini diterapkan ke beberapa anggota Kubbu saat acara camping BPJ di Ragunan pada bulan puasa yang lalu. Setelah saya cross cek, metode ini rupanya digunakan pula oleh beberapa trainer. Mau kepoin metodenya? Hubungin aja Mbak Diah Sally ya…

 

Perdana

Setelah memperhatikan, menimbang dan memutuskan, akhirnya saya tertarik juga dengan hal-hal terkait kreatifitas. Saat iseng-iseng melihat instagram Jakarta Creative Hub (JCH), ada postingan yang menarik tentang seminar kreatifitas.

Dalam beberapa kegiatan di JCH, baik itu seminar maupun pelatihan, tersedia slot gratis untuk member JCH walaupun jumlahnya terbatas.

Sebenarnya ada beberapa kendala kalau berkeinginan mengikuti kegiatan di JCH. Yang pertama adalah mayoritas kegiatannya diselenggarakan di weekdays. Jadi, kalau Anda adalah seorang karyawan, maka mau tak mau harus mengajukan cuti.

Yang kedua, saya tidak selalu bisa update info kegiatannya, pas sudah beberapa hari atau bahkan beberapa minggu, baru ketahuan kalau ada kegiatan yang menarik. Walhasil, cuma bisa nyesel kan…

Kendala ketiga, berhubung banyak peminat dengan kegiatan JCH termasuk kegiatan yang gratis untuk member JCH (apalagi yang gratis untuk umum), terkadang slotnya langsung penuh dalam hitungan hari atau bahkan malah hitungan jam. Wajar sih namanya juga gratisan

Saya sendiri sudah menjadi member JCH sejak lama tapi belum pernah mengikuti seminar atau pelatihannya. Dari Bagian Informasi diperoleh keterangan bahwa untuk menjadi member JCH harus mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP) DKI Jakarta. Sebenarnya yang punya KTP non DKI juga boleh menjadi member namun tidak masuk dalam prioritas. Jika ada kegiatan di JCH, pihak JCH juga akan memprioritaskan dahulu anggota JCH yang mempunyai KTP DKI Jakarta. Peraturan ini rupanya tidak berubah sejak saya mendaftar menjadi member JCH beberapa bulan yang lalu.

 

Postingan tentang seminar “Creative Thinking Skills” tercantum di instagram JCH pada tanggal 7 Agustus 2018. Kebetulan saya baru baca postingannya sehari sesudahnya. Tanpa pikir panjang saya pun mendaftar melalui form pendaftaran khusus untuk member JCH. Gratis gitu loh

Kegiatan seminar dilakukan pada tanggal 15 Agustus 2018, saya pun sudah menyiapkan cuti jika memang lolos seleksi untuk menjadi peserta.

Cuti tahun 2017 sendiri belum pernah saya ambil sama sekali. Sehingga saya punya stok cuti 12 hari untuk tahun 2017. Ini belum ditambah tahun 2018 yang juga belum pernah saya ambil. Kebayang kan, bejibun banget tuh cuti…

Tepat pada H-1, saya mendapat telepon dari pihak JCH untuk mengkonfirmasi kehadiran saya di seminar “Creative Thinking Skills”. Saya pun menyatakan kehadirannya dan memang sudah menyiapkan cuti untuk itu. Beberapa saat kemudian ada email masuk yang juga menanyakan konfirmasi kehadiran. Rupanya pihak JCH tetap membutuhkan konfirmasi tertulis untuk hal tersebut. Hal yang wajar sih menurut saya, supaya ada bukti otentik.

Jadilah tanggal 15 Agustus 2018 ini menjadi partisipasi perdana saya setelah menjadi member JCH.

 

Seminar yang Wow Banget

Sebelum mulai, peserta melakukan registrasi ulang kembali ke panitia dan menulis nama panggilannya pada stiker yang kemudian ditempelkan di bagian dada atas sebagai pengenal.

Untuk beberapa seminar yang bersifat pengembangan diri atau juga pengetahuan, saya selalu antusias menghadirinya, termasuk dengan seminar “Creative Thinking Skills” ini.

Dengan narasumber yaitu Bapak Welman Purba dari Synergis Training & Consulting Group, seminar berjalan lancar dan hangat.

Kalau melihat biodata narasumbernya, jam terbangnya lumayan tinggi karena mengisi seminar di banyak instansi, BUMN maupun perusahaan.

Informasi dari Bapak Welman Purba selaku narasumber, bahwa yang bersangkutan ulang tahun pada tanggal 17 Agustus 2018, oleh karena itu memberikan seminar gratis ini kepada peserta. Tentang ultah tersebut, entah serius atau bercanda nih narasumbernya. Satu hal  yang pasti, bahwa kalau seminar ini sebenarnya harganya cukup mahal lho. Beruntung banget nih member dari JCH karena narasumber mau memberikannya gratisan.

Untuk mencairkan suasana, peserta diminta membuat lingkaran, lalu masing-masing peserta membuat kata positif sesuai abjad dari nama panggilannya dalam beberapa detik. Misalkan saya, waktu itu menggunakan Antusias, Responsible, Independen dan Sportif (A-R-I-S). Gampang kan, karena cuma empat huruf, gak pake mikir. Cuma, ada peserta yang menulis lengkap nama panggilannya, kalau tidak salah namanya Hikmayatun. Mumet kan wkwkwk

Bisa ditebak, peserta tersebut akhirnya memang tidak bisa menyelesaikan permintaan narasumbernya karena kehabisan ide.

 

Otak Kiri dan Otak Kanan

Sumber : Thepanicchannel.com

Ada cara sederhana untuk menentukan seseorang apakah punya kecenderungan di otak kiri atau di otak kanan. Caranya dengan menyatukan kesepuluh jari dari dua tangan kita. Apabila setelah disatukan,  jempol tangan kanan berada di atas jempol tangan kiri maka orang tersebut punya kecenderungan untuk aktif di otak kiri, begitu pula sebaliknya. Kok bisa begitu?

Penjelasan ilmiahnya, bahwa otak kiri itu mengontrol bagian kanan tubuh, begitu pula sebaliknya.

Narasumber juga memberikan tes lainnya berupa tiga belas pertanyaan dengan jawaban pilihan ganda yaitu A dan B kepada seluruh peserta. Jika jawabannya lebih banyak A, maka peserta cenderung aktif di otak kiri, begitu juga sebaliknya.

Hasil dari jawaban saya? Sudah bisa ditebak, jawaban A sebanyak delapan, sedangkan  jawaban B sebanyak lima. Forza otak kiri!!!

Narasumber sempat menguji kreatifitas empat peserta untuk menghitung cepat angka seribu, dua ribu dan seterusnya  sampai dengan angka sepuluh ribu. Oleh narasumber, angka ribu tertentu diubah menjadi biru dan harus menghitung secara cepat.

Tiga orang bisa melakukannya dengan cepat, hanya satu orang yang agak terbata-bata melakukannya. Tapi setidaknya, semuanya bisa kreatif sesuai dengan kondisi yang ada.

Dalam salah satu sesi, narasumber juga meminta peserta menyebutkan warna di salah satu materi paparan dengan cepat.

Narasumber memandu peserta untuk menyebutkan warna dari tulisan tersebut dari kiri ke kanan  atau sebaliknya, dari atas ke bawah atau juga sebaliknya.

Para peserta ternyata berhasil melakukannya dengan cepat. Hal ini menjadi bukti bahwa sudah ada kreatifitas dalam diri mereka masing-masing.

 

Setelah istirahat makan siang, narasumber kembali menguji kreatifitas peserta dengan membagi peserta dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok diberi instruksi untuk membuat rangkaian kalimat yang diawali oleh huruf tertentu sebanyak 50 kata. Kebetulan kelompok saya terdiri dari empat orang dan mendapat instruksi untuk membuat kalimat yang diawali dengan huruf “M”. Kami pun berhasil membuat dua rangkaian kalimat dengan huruf “M” tersebut sehingga totalnya 100 kata. Namun, ketika dipresentasikan, menurut narasumber bahwa susunan kata dalam kalimatnya ternyata gak nyambung. Sehingga kalimatnya menjadi kurang tepat. Setidaknya kami sudah berusaha, walaupun hasil masih belum sesuai yang diharapkan … Ahsyudahlah….

Beberapa kelompok lainnya berhasil melakukan instruksi narasumber tersebut di atas dengan tepat, bahkan rangkaian katanya banyak yang lucu-lucu. Hebat bener mereka…

 

Menuju Kreatif

Berdasarkan informasi dari narasumber, untuk melatih otak kanan, kita dapat melakukan beberapa aktifitas seperti : olahraga; menyanyi dan bermain musik; menulis; dan melukis.

Beruntunglah untuk Anda yang memang sudah punya salah satu aktifitas tersebut di atas. Syukur-syukur bisa melakukan semuanya, pasti orangnya kreatif bangget, pakai double “g”.

 

Setidaknya, ada sepuluh cara menjadi orang yang kreatif, yaitu :

  1. Lakukan sesuatu yang berbeda
  2. Berkomunikasi/berdiskusi dengan banyak orang
  3. Banyak membaca
  4. Menyediakan waktu untuk sendiri/mengkhayal
  5. Selalu ingin tahu terhadap apapun
  6. Menuliskan apa saja yang ada di pikiran Anda
  7. Mengamati sesuatu yang dikerjakan orang lain
  8. Tantang dirimu sendiri
  9. Luangkan waktu untuk beristirahat dan relaksasi
  10. Bangun kepercayaan yang positif

 

Dari cara-cara tersebut di atas, cara nomor 4 yang bisa dibilang bikin tertawa ngakak. Karena cara ini bisa saja terjadi pada saat kita sedang di kamar mandi. Beberapa  orang pasti pernah mengalaminya, sedang asyik-asyik merenung/berimajinasi untuk mencari solusi dari sesuatu hal pada saat berada di kamar mandi atau (maaf) saat sedang buang air besar, tiba-tiba ide kreatif atau gagasan cemerlang biasanya langsung muncul. Oleh karena itu toilet atau kamar mandi bisa menjadi tempat untuk mencari inspirasi. Iya kan? Akui saja lah …

 

Setelah mengikuti seminar ini, ada pemikiran untuk kembali ikut seminar atau pelatihan  lainnya dari JCH. Rencananya pada bulan Oktober 2018, kalau ada ada event JCH yang menarik, akan saya pertimbangkan untuk ikut kembali.

Kalau ada yang nanya, kok nungguin bulan Oktober? Gak dari sekarang aja?

Jawabannya klise : jadwal lagi padat dan biar keliatan sok sibuk hehehe…

 

Oke, untuk Anda yang barangkali mau mengetahui tentang kegiatan-kegiatan JCH, pantengin aja instagram @jakartacreativehub. Sekian dari saya dan terima kasih.

 

 

 

65 thoughts on “Berpikir Kreatif

  1. Dari penjelasan Mas Ris, aku jadi tahu ternyata aku dominan otak kiri juga. Hehehe. Izin share ya Mas tulisannya, kali aja ada yang belum tahu mereka dominan otal mana. Hehehe.
    Btw, kok kantornya Mas Ris enak amat sih, cuti tahun lalu gak hangus di tahun 2018? Hahaah. Kalo kantor saya gitu, merdeka bgt, saya bisa cuti panjaaaaang 🙂

  2. Saya coba tes pake tangan, ternyata juga dominan kiri… Keren yah kegiatan-kegiatan di JHC. Hehehe… Terima kasih tips untuk lebih kreatifnya, Mas Ris.

  3. Aku sih sudah pasti Otak Kiri at its best!

    Pertanyaanku terkait artikel ini sebenarnya adalah batasan antara berkhayal untuk melatih kreativitas sebelum kita menjelma halu. wkwkwk

  4. Khayalannya/imaginasinya yang tentang solusi untuk pekerjaan dan porsinya yang wajar-wajar saja, jangan ketinggian. Takut nanti malah jadi “Khayalan Tingkat Tinggi”. Kaya judul lagunya Peter Pan wkwkwk…

  5. Sepertinya kebanyakan orang dominan otak kiri ya, aku juga kiri soalnya hehe. Tertarik banget sama tulisan kaka ini, aku sampe beberapa kali baca ulang

    1. Karena dari kecil, sistem pendidikannya lebih banyak menggunakan otak kiri. Di samping itu secara sosial budaya, sisi tubuh bagian kanan yang sering digunakan.

  6. Saya dominan otak kanan. Tapi dari kecil kalau melipat tangan ibu jari kanan saya berada di atas ibu jari kiri..
    Apakah ini masalah habit dari kecil, atau masih ada hubungannya dengan otak kiri? Sementara dalam segala aktivitas saya cenderung dominan otak kanan.. 😁😁

  7. Wah, perlu diteliti lebih lanjut oleh para pakar nih. Sekali-kali jadi obyek penelitian lah, soalnya anomali banget wkwkwk..
    Saya mencium aroma-aroma kreatif pada diri anda. Buktinya bisa membuat tulisan dengan gaya berbeda di beberapa blog.

    1. Auditor kan termasuk bagian dari Akunting, harusnya masuk kategori otak kiri. Ini perlu dikaji, tesnya yang gak tepat atau mbaknya salah profesi hahaha…

  8. Saya dominan otak kiri, dari dulu kalau masalah hitung-menghitung lebih bisa dibandingkan dengan seni. Dari SD-SMA kalau ada tugas gambar selalu minta tolong gambarin temen, gak pernah menggambar sendiri :’D

  9. Otak kiri jawabannya…Tips nya 10 caranya juga oke untuk dicoba. Tinggal menyesuaikan yang mana yang belum dilakukan atau meningkatkan intensitas. Apalagi No. 4

    1. Iya bang. Yang paling utama itu, mencoba hal-hal baru. Misalkan saat senggang menggunakan rute perjalanan berbeda saat menuju suatu tempat, misalkan saja ke kantor.

  10. Hi Mas Ris, saya kasih tantangan untuk berfikir lateral ya. Terkait dengan 10 point berfikir kreatif, hal tersebut ada di no 1. Tantangan tersebut adalah Mas Ris menulis sesuatu dari pandangan yang berbeda. Bukan Mas Ris banget dech. Tapi, setelah selesai nulis itu, Mas Ris akan lebih aware betapa banyak potensi pribadi Mas Ris yang selama ini ‘ dibiarkan nganggur’… Siap Mas Ris?

  11. Kalo aku dominannya otak tengah Mas Ris, bahkan sebenarnya prosentasenya sama antara kanan dan kiri, merata, tp dominan otak tengah. Makanya aku kadang2 nongol ide jailnya, kdg2 mikirin sesuatu banget, kdg agak2 romantis hahahha..
    Trus mengenai ide, sama siih aku lbh bnyk dpt ide pas mandi..wkwkwk.

    Btw, ini aku pake tes metodenya Sally, dan mesti dites, yg sally itu nebak aja dr tgl lahir tp blm tentu bener lho wkwkwkw..tp ya gpp lah buat ancer2 pertama.

    1. Wah hebat kalo bisa imbang, soalnya jarang banget terjadi.
      Iya belum tentu benar, dan memang perlu dites lebih lanjut untuk akurasinya.

  12. Saya dominan otak kiri banget. Bahkan, selama bekerja tiap hari menghitung uang dan melihat angka-angka, saya merasa makin lama kreatifitas saya mati, huhu. Sekarang sudah lumayan tertolong dengan 10 hal yang Mas Aris sebutkan tadi.

  13. Saya bingung dominan otak mana, Mas. Kalau mengatupkan tangan, jempol kanan yang di atas. Kalau kerja di kantor, saya lebih menyukai secara runut, tapi saya juga suka gambar. Nah lho 😂

    1. Mungkin biasa aktif di otak kiri, walaupun gapnya gak terlalu besar dengan otak kanan. Usahakan biar imbang mbak, kan keren banget kalo bisa begitu.

  14. Kereen Mas Ris, aku kayanya otak kanan deh kalau baca penjelasan di artikel ini. Terus tadi coba tes ucapkan warna bukan tulisan, gagal terus doong ahahha

  15. Kalau menggunakan metode genggaman tangan, berarti aku aktif otak kiri juga. Tapi aku ga jago matematika. Hahahaha…
    Semua poin untuk menjadi kreatif itu juga udah aku lakuin, tapi ga kreatif-kreatif juga nih.

  16. aku dominan kanan, tapi aku suka angka. kok g match ya mas?

    tp btw, aku berkhayal g cm d kamar mndi. Seringnya justru klo lagi sendiri aja, di mana pun

    1. Sepertinya memang otak kanan sih, kan kamu suka bikin puisi dalam waktu sangat cepat. Itu berarti imajinasinya memang tinggi, bisa dapat inspirasi dimanapun berada.

  17. dari kecil hasil tes di lembaga tes gitu aku sih otak kanan kak. Kayanya sampai hari ini juga aku dominan otak kanan karena aku suka dunia kreatif seperti seni, musik, dll. Aku suka ngayal jg orangnya. wkwkwk jadi cocok lah
    Thanks infonya. Menarik!

    1. Wah sudah tahu dari kecil ya, hebat.
      Tinggal dioptimalkan saja tuh mbak sisi otak kanannya terutama untuk pekerjaan.

  18. Hwaa klo pakai metode tangan, aku otak kanan,dan emang ga suka analisis,kerja ga suka runut lbh enak fleksible,,sayangnya ga kreatif! Wkwkw

    Tks mas Ris ini, serasa aku baca buku2 psikologi yg ada di Gramedia loh baca artikelnya…

    1. Saya gak tahu profesi mbak Nunuz nih, tapi dulu pernah jadi relawan buat pengajar kan. Nah pengajar (dan juga peneliti) cocok buat otak kiri. Kalo ditambah dengan kreatifitas pasti bisa disukai oleh murid-muridnya.

  19. Berpikir kreatif tidak datang dengan sendirinya dan harus sering diasah, komunitas ini bisa mewadahi yang berkeinginan untuk mengasah kreatifitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *