Totalitas ke Gunung Sindoro, Demi Melengkapi Triple S

Totalitas ke Gunung Sindoro, Demi Melengkapi Triple S

Triple S? Makhluk jenis apa itu? Apakah saudaraan dengan Triple H, pemain gulat ala Smackdown? Bukan itu pemirsa…

Bagi pendaki gunung di Indonesia, istilah Triple S memang sangat familiar, karena gunung-gunung tersebut adalah Sumbing, Slamet dan Sindoro.

Sebelumnya, saya sudah mendaki gunung Sumbing dan Slamet, kali ini giliran Sindoro yang saya incar. Beberapa bulan yang lalu sebenarnya sudah ada woro-woro trip ke Gunung Sindoro ini. Cuma karena sempat terjadi kebakaran, akhirnya tripnya ditunda dan direschedule menjadi tanggal 10-11 November 2018.

Pendakian ini digawangi oleh dua orang CP yang gak diragukan jam terbangnya dalam hal pendakian gunung yaitu Bang Vikry dan si kecil-kecil cabe rawit, siapa lagi kalau bukan Nia.

Saya sendiri sudah beberapa kali satu trip dengan mereka. Bahkan khusus dengan bang Vikry ini, baik saya dan juga Bang Vikry sendiri sama-sama saling bosan karena ketemu melulu di trip pendakian. Istilahnya 4L, “Lu Lagi Lu Lagi.

 

Seperti biasa, meet up dilakukan di Sekretariat BPJ di daerah Cawang. Saat itu, bus yang membawa kami berada di area parkir UKI sana, bukan berada di depan pintu gerbang Sekretariat BPJ. Mungkin dikarenakan untuk menghindari kemacetan, maka bus berada di area parkir UKI. Jadilah kami peserta pendakian ini, berjalan menuju tempat parkir bus tersebut.

 

Bus berangkat dari area parkir UKI pada pukul 22.40. Perjalanan yang semula lancar-lancar saja mulai tersendat saat berada di daerah Cikarang. Wajar saja sih karena Cikarang saat ini sedang ada pembangunan infrastruktur yang begitu luar biasa, sehingga jalan menjadi macet banget.

Pak Sopir pun sudah berupaya untuk mencari jalan alternatif demi kelancaran perjalanan, tapi tetap saja kendaraan tiba terlambat di tujuan.

 

Start Pendakian yang Telat

Sesuai itinerary, seharusnya bus sudah tiba di basecamp Kledung sekitar pukul 10.00. Namun karena kemacetan tersebut di atas, bus baru tiba pukul 14.40.

Setelah meletakkan tas keril masing-masing, peserta berhamburan untuk mencari makan siang di warung-warung sekitar basecamp. Maklum saja, jam makan siang sudah telat, sehingga perut ini minta diisi ulang.  Meskipun pada pagi harinya kami sempat sarapan saat di perjalanan.

Saya sendiri kalau sudah lapar bawaannya pingin saya sikat aja semua yang ada piring secepat mungkin.

Selesai makan siang, peserta melakukan packing ulang keril untuk pendakian. Dengan ditemani hujan deras di basecamp, CP melakukan briefing kepada peserta pendakian. Hujan yang deras membuat peserta pendakian menggunakan jas hujan saat itu juga. Dari basecamp, peserta menggunakan jasa tukang ojek untuk mencapai Pos 1.

Keberadaan tukang ojek di trip Gunung Sindoro ini mengingatkan saya juga dengan tukang ojek di trip Gunung Sumbing. Namun, terdapat dua perbedaan antara perjalanan dengan tukang ojek menuju Pos 1 di Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

Perbedaan pertama adalah posisi duduk penumpang ojek. Kalau di Gunung Sumbing, posisi duduk penumpang berada di depan tukang ojek. Sedangkan di Gunung Sindoro ini, penumpang dibonceng tukang ojeknya.

Perbedaan kedua adalah medan perjalanannya. Di Gunung Sumbing, jalannya sepenuhnya berbatu dengan tebing curam di beberapa titik. Sedangkan di Sindoro, selain jalan berbatu juga ada jalan tanah yang licin dan membuat motor selip.

Persamaannya adalah baik tukang ojek maupun penumpang, sama-sama tidak memakai helm.

Nah, bisa dibayangkan bagaimana rasanya pendakian di kedua gunung itu.  Deg-degan sih sudah pasti, karena tidak ada safety-nya. Apalagi pas di Gunung Sindoro saat itu diguyur hujan deras, saya makin was-was karena jalan berbatu dan jalan tanahnya basah dan licin, khawatir motor terpeleset.

Buat kamu yang pingin uji nyali,  cobain deh dari perjalanan naik motor dari basecamp menuju Pos 1 baik itu di Gunung Sumbing maupun di Gunung Sindoro. Bahkan orang yang biasanya jarang berdo’a pun, di kedua gunung ini bisa langsung auto-insyaf begitu naik motor menuju Pos 1.

Perhatikan orang yang sebelah kiri. Entah sedang merenungkan apa.

Pendakian Gunung Sindoro pun mulai dari Pos 1 sekitar pukul 17.00. Telat banget kan ya… Tapi tak apa-apa, karena tidak semua yang kita rencanakan itu bisa berjalan dengan lancar. Terima saja situasinya, yang penting happy.

 

Perjalanan Menuju Area Camp

Karena pendakian dimulai sekitar pukul 17.00, maka tak lama kemudian waktu Maghrib tiba. Kebetulan saya dan beberapa peserta lain ada di rombongan paling belakang. Kami pun beristirahat sebentar di sebuah bangunan kayu.

Selesai Maghrib, perjalanan pun dilanjutkan kembali. Tim sweeper berkomunikasi dengan Nia melalui handie talkie. Posisi Nia dan rombongannya yang saat itu berada jauh di depan ternyata juga belum sampai di area camp. Namun setidaknya dengan adanya Nia dan rombongannya yang nantinya tiba lebih dulu, bisa mencari lokasi untuk mendirikan tenda.

Headlamp yang saya gunakan saat itu cahayanya tidak begitu terang karena baterainya sudah mulai habis. Hal itu membuat saya akhirnya mengganti baterai tersebut. Setelah itu, perjalanan saya menjadi lebih lancar karena ditunjang pencahayaan yang cukup memadai.

Saya bersama rombongan akhirnya tiba di Sunrise Camp pada pukul 20.45. Saya pun langsung mendirikan tenda bersama bang Vikry.

 

Komedi Ala Gunung

Setelah semua tenda didirikan, peserta pun mulai memasak logistik yang ada untuk makan malam. Saat itu pakaian saya basah kuyup semua selain karena hujan sepanjang perjalanan juga karena keringat. Mau tak mau harus diganti dengan pakaian kering demi kenyamanan dan juga menstabilkan suhu badan. Dari beberapa pendakian yang saya ikuti, faktor suhu dingin ini menjadi hal yang sangat mempengaruhi tubuh. Saya merasa masuk angin karena efek dari suhu dingin tersebut.

 

Setelah makan malam, perkenalan pun dimulai. Satu per satu peserta menginformasikan data dirinya, juga statusnya.

Meinny menjadi orang terakhir yang memperkenalkan dirinya. Saat itu dia bercerita, gara-gara ikut trip pendakian sebelumnya, dia malah putus dengan pacarnya. Saya, Bang Vikry dan Nia memang tahu banget dengan hal tersebut karena memang satu trip dengan Meinny. Antara mau ketawa dan sedih saat itu, tapi dibawa happy saja. Soalnya Meinny juga kayaknya biasa aja sih. Mungkin sudah banyak yang antri mau gantiin pacarnya. Maklum saja, lumayan cantik nih anaknya.

 

Setelah acara perkenalan selesai, peserta pun beristirahat di tenda masing-masing. Kapasitas tenda saya yang berisi 4 orang akhirnya terisi penuh. Keempat orang yang tidur di tenda saya adalah satu orang perempuan yaitu Uswatun dan tiga orang laki-laki yaitu  Bang Vikry, mas Langgeng dan saya sendiri. Nah kejadian lucu pun terjadi saat itu.

 

Saat itu menjelang pukul 04.00 pagi, di luar tenda terdengar para pendaki bercakap-cakap untuk memulai summit. Saya yang terbangun tiba-tiba, langsung panik. Saat itu di dalam tenda, hanya tinggal dua orang saja, yaitu Uswatun dan satu orang laki-laki. Dikarenakan Mas Langgeng yang sebelumnya itu tidur tepat di sebelah saya maka saya otomatis menyangka itu adalah Mas Langgeng.

“Bang Vikry kemana ya, semalam setelah acara masak-masak, headlamp saya dipinjam dia” tanya saya yang sambil menyiapkan air minum, roti, sarung tangan, ganti kaus kaki dengan tergesa-gesa.

“Semalam sepertinya ketinggalan di tempat dapur” jawab laki-laki di sebelah saya.

Saat itu saya masih berpikiran kalau orang yang berada di samping saya adalah Mas Langgeng.

 

Dari luar tenda, terdengar para pendaki sudah mulai berjalan kaki melewati depan tenda saya, membuat saya makin buru-buru untuk segera menyelesaikan persiapan summit.

Di dalam tenda saya pun berteriak, “Bang Vikry, kamu dimana?”

Uswatun yang juga berada di dalam tenda saya menyahut “Emangnya nama  Vikry ada dua ya?”

Waktu itu saya nggak ngeh dengan ucapan Uswatun ini, karena saya masih sibuk menyiapkan perbekalan untuk summit dan juga membereskan tas keril saya.

“Bang Vikry, saya butuh headlamp saya!” teriak saya ke orang-orang di luar sana.

“Iya, nanti saya cari deh” jawab orang di sebelah saya.

Saya pun menoleh ke orang tersebut, setelah diamati ternyata orang itu adalah BANG VIKRY!

Jadi dari tadi, orang yang saya kira Mas Langgeng ternyata adalah Bang Vikry. Gubrak!!!!!!

 

Cahaya di tenda yang remang-remang, ditambah lagi saat itu saya tidak memperhatikan wajah orang yang bicara di sebelah saya, benar-benar menjadi pengalaman lucu.

“Bang, posisi tidur lu kenapa jadi bersebelahan sama gue, kan gue jadinya mengira lu itu Mas Langgeng?”tanya saya saat itu.

“Mas, lu lagi halu ya?” canda Bang Vikry.

Saya pun ngakak ditanya seperti itu.

Uswatun yang saat itu sedang haid dan memang tidak ikut summit, akhirnya meminjamkan headlampnya kepada saya.

Bang Vikry sendiri juga tidak ikut summit karena sudah ke puncak Gunung Sindoro di pendakian sebelumnya.

 

Summit

Setelah keluar tenda saya bergerak cepat mengikuti track menuju puncak Gunung Sindoro. Rupanya saya menjadi peserta paling belakang saat itu. Di depan saya adalah rombongan pendaki lain.

Gunung Sumbing

Karena tracknya cukup curam, laju rombongan pendaki tersebut menjadi lambat. Dengan perlahan-lahan, saya berhasil melewati orang-orang di rombongan tersebut satu demi satu.

Akhirnya saya berhasil bertemu dengan rombongan pendaki BPJ di salah satu titik pendakian.

Saya sendiri tiba di puncak Sindoro pada pukul 06.43. Beberapa pendaki dari trip BPJ ini sudah tiba lebih dulu di sana.

Setelah semua peserta summit berkumpul, kami pun sempat bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya di puncak Gunung Sindoro. Jarang-jarang lho di trip pendakian BPJ nyanyi lagu nasional. Keren banget kan…

 

No One Left Behind

Setelah puas berfoto-foto, peserta pun mulai turun satu per satu. Saat itu waktu menunjukkan pukul 08.10. Saya yang tadinya berada di posisi paling depan rupanya mulai melambat lajunya. Seperti di pendakian Gunung Sumbing, Nia berhasil mendahului saya. Entah terbuat dari apa kaki cewek satu ini, gesit banget pokoknya. Tidak cuma Nia, beberapa pendaki lainnya juga mendahului saya. Kalau dipikir-pikir saya ini memang bermasalah kalau pas turun, karena lambat banget. Pas mendaki ke puncak gunung saya lumayan cepat, tapi begitu turun jadi seperti keong. Pengalaman di beberapa gunung, saya selalu bisa disusul dan dilewati oleh beberapa pendaki lain.  Bisa jadi ini karena faktor U, hahaha…

Saya tiba di Sunrise Camp pukul 10.10 dengan cuaca yang saat itu cukup panas. Karena kondisi itu, saya pun rebahan di dalam tenda. Walaupun tidak terlalu berhasil mengusir rasa panas saat itu, setidaknya saya bisa beristirahat sebentar.

Setelah beristirahat sebentar, peserta yang sudah berada di Sunrise Camp memasak sisa logistik yang ada untuk makan siang.

Setelah makan siang, kemudian dilanjutkan dengan membereskan peralatan pendakian termasuk keril dan tentunya juga tenda masing-masing.

Saat itu beberapa pendaki yang turun dari puncak Sindoro, belum juga tiba di Sunrise Camp. Sehingga tim sweeper menunggu mereka kedatangan mereka serta menyimpan makan siangnya.

Batang pohon yang melintang

Pukul 12.45, saya bersama beberapa rekan lainnya turun dari Sunrise Camp menuju Pos 1. Waktu itu kami santai saja, tiap berjalan beberapa meter pasti diselingi dengan istirahat.

Kami pun tiba di Pos 1 tepat pada pukul 15.00. Dengan menggunakan jasa tukang ojek yang ada saya dan rekan pendaki lainnya menuju basecamp Kledung. Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di basecamp tersebut.

Setelah tiba, saya pun langsung mencari kamar mandi terdekat. Berdasarkan informasi dari salah satu warung, ada warung lainnya yang menyediakan fasilitas kamar mandi.

Saya pun bergegas menuju kamar mandi tersebut. Sambil menunggu, saya gunakan waktu yang ada untuk istirahat di dalam warung tersebut. Rupanya orang yang ada di kamar mandi adalah Nia. Pantesan mandinya lumayan lama, Nia pun cengar cengir saja.

Selesai mandi saya pun mengisi perut dengan membeli semangkuk bakso. Cuaca yang dingin dan saat itu juga sore hari membuat bakso adalah pilihan yang tepat untuk menghangatkan perut.

Setelah menyantap bakso, saya melakukan packing ulang pada keril saya. Saat itu diperoleh kabar bahwa salah satu rekan pendaki di trip BPJ ini mengalami cedera saat turun. Walaupun begitu, tim sweeper pasti memback up rekan yang cedera tersebut. Kami pun menunggu peserta yang cedera itu tiba di basecamp Kledung. Tidak menjadi masalah saat itu jika akhirnya berangkat dari basecamp Kledung pada pukul 19.48 dan tiba di Cawang pada pukul 09.30, karena esensi pendakian adalah pulang dengan selamat.

Buat saya pribadi, dalam setiap pendakian, “no one left behind”. Berangkat bersama-sama, pulang pun harus bersama-sama.

 

 

35 thoughts on “Totalitas ke Gunung Sindoro, Demi Melengkapi Triple S

  1. Selamat ya Mas, telah menuntaskan ‘misi’ pendakian triple S nya. Saya membaca catatan pendakian Sumbing, ndak se deg2an membaca tulisan Mas Ris di pendakian sebelum2nya.
    Ditunggu tulisan Mas Ris di pendakian selanjutnya, dengan sudut penuturan yang berbeda ya. Sepertinya akan tetap menarik…..

    1. Mungkin saya gak bakalan lagi nanjak ke Gunung Sumbing dan Sindoro. Sudah cukup pengalaman deg-degannya menuju ke Pos 1 naik motor hehehe…

  2. mas ris ini gak hanya di pendakian saja motto “no one left behind”. Jalan-jalan biasa juga selalu nungguin yg paling akhir.
    Saya ingat 1 th lalu saat pergi ke bogor, saya ditabrak motor dan keseleo, mas ris nemenin saya jalan di belakang saya.
    Pas acara ultah di bogor pun kemarin, saya kan jalannya lama, ditungguin jg sama mas ris.
    keren dah pokoknya mas yg satu ini.

  3. Wuihh mantap mas Ris sudah berhasil menaki 3S. Selalu suka kalau baca tulisan tentabg naik gunung, karena saya cuma bisa ngebayangin aja hehehe. Ngakak juga bayangin naik ojeg yg bikin auto insyaf

  4. Gue juga kalo ke gunung pas turun rada lambat..
    Kata orang karena gue kurang yakin melangkahnya jadi ragu2 dan bikin lama..
    Tapi itu gue sih mas ris.. hahah..
    Eh nggak ada yang nanya.. wkkww..
    Selamat sudah triple s.. mantap..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *