Mengalahkan fobia di Situ Gunung

Mengalahkan fobia di Situ Gunung

Berada di ketinggian menjadi hal yang sangat menakutkan buat saya. Melihat dan membayangkan jauh di bawah sana sungguh membuat nyali ini menjadi ciut.

Ketakutan akan ketinggian, yang dalam bahasa kerennya di sebut acrophobia, membuat saya selalu menghindari situasi tersebut, termasuk tebing yang curam. Oleh karena itu, saya gak bakalan berani berfoto-foto di puncak-puncak bebatuan, saat di gunung misalnya.

Dengan kondisi tersebut, saya tidak berkecil hati karena fobia saya, karena tentunya banyak orang yang mengalami hal serupa. Ada temannya dengan fobia yang sama, begitu kira-kira. Ya anggap saja menyenangkan diri sendiri wkwkwk….

Kalau membaca beberapa artikel, banyak orang-orang terkenal yang mempunyai fobia yang tidak masuk akal untuk ukuran orang pada umumnya. Ada yang fobia dengan nasi, fobia dengan ayam dan sebagainya. Seorang aktor laga terkenal, malah fobia dengan kerupuk. Aneh kan….

Malah, ada juga teman yang agak takut dengan ondel-ondel. Padahal sekarang ini banyak ondel-ondel yang berseliweran di jalan.

Dibandingkan mereka ini, fobia saya masih “cukup normal’. Kok gitu? Lha iyalah, karena takut dengan ketinggian, pasti ada alasan logisnya, biasanya takut jatuh. Jadi, normal-normal saja kan…

Terkait dengan ketinggian, beberapa bulan belakangan ini, ada wahana wisata yang mungkin membuat saya cukup deg-degan kalau mengunjunginya. Sebuah jembatan gantung yang menjadi popular karena berada di tempat yang cukup tinggi. Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah Jembatan Gantung Situ Gunung.

Kebetulan Backpacker Jakarta (BPJ) mengadakan trip untuk ke Jembatan Gantung Situ Gunung ini. Ternyata trip ini menjadi yang ke-7 dilakukan oleh BPJ. Dari hal itu bisa diambil kesimpulan bahwa peminat trip ini memang luar biasa banyaknya.

Kebetulan yang menjadi Contact Person (CP) trip ini sudah saya kenal baik karena sudah beberapa kali satu trip dengan mereka. Kali ini mereka sudah tidak lagi menjadi peserta, tetapi naik level menjadi CP. CP pertama adalah Bang Idris, yang katanya kelahiran dari Nusa Tenggara Timur. CP yang kedua adalah Kiki, gadis Subang yang merantau ke Bekasi.

Di trip ini, saya juga bertemu dengan Widdy Andya Fanny, teman yang dulu pernah satu RT. Uniknya teman saya itu, kalau di RT BPJ dipanggilnya Widdy, cuma kalau di Klub BPJ, dipanggilnya Fanny. Bingung kan? Jangan-jangan kalau di rumah dipanggilnya Andya wkwkwkw…..Perempuan dengan tiga panggilan.

Perihal Widdy ini, dia itu perempuan yang pintar terutama tentang sejarah. Kalau ketemu dia, ibarat ketemu kamus berjalan. Sampai dulu dikasih julukan Widdypedia.

 

Trip pun dimulai dari Sekretariat BPJ, dengan berangkat menggunakan bus pada tanggal 16 Februari 2019 pukul 01.00. Rombongan trip tiba di Situ Gunung pada pukul 03.45. Ternyata saat itu kami datang kepagian. Walhasil, kami beristirahat sambil menunggu pagi di sebuah mushala.

Setelah shalat shubuh dan sarapan, seperti biasa, CP melakukan briefing untuk trip ini. Setelah melakukan perkenalan diri seluruh peserta, kegiatan tracking pun dilakukan pada pukul 06.25.

Danau Situ Gunung

Danau Situ Gintung menjadi tujuan tracking ini. Setelah berjalan selama beberapa menit, tibalah kami di danau tersebut. Danau tersebut rupanya cukup luas dan lumayan bagus pemandangannya. Tempat ini cocok untuk berfoto-foto dengan menggunakan spot-spot yang ada. Setelah bersantai cukup lama di tempat ini, akhirnya kami kembali lagi ke tempat awal tracking tadi.

Jembatan Gantung Situ Gunung

Setelah semua berada di lokasi, para CP kembali melakukan briefing untuk lokasi kedua yang akan didatangi yaitu Jembatan Gantung Situ Gunung alias Situ Gunung Suspension Bridge.

Jembatan Gantung Situ Gunung yang memang tujuan utama trip ini. Dengan panjang sekitar 240-an meter, kabarnya Jembatan Gantung Situ Gunung merupakan jembatan gantung terpanjang di Indonesia.

Saat berada di pintu masuk, pengunjung akan di beri semacam gelang kertas untuk akses masuknya. Di dalam gelang kertas ini pula terdapat daftar seperti :

  • Suspension Bridge Guide 1
  • Welcome Drink
  • Suspension Bridge Guide 2

Jika pengunjung sudah menikmati fasilitas yang ada, maka petugas akan memberikan tanda checklist pada daftar tersebut. Dan suguhan welcome drink menjadi fasilitas pertama yang dinikmati. Pengunjung pun mendapat makanan kecil dan minuman secukupnya. Setelah menikmati welcome drink, peserta trip BPJ kemudian menuju ke Jembatan Gantung Situ Gunung. Rupanya jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat welcome drink tadi.

Petualangan yang sesungguhnya pun dimulai. Begitu mendekati jembatan tersebut, petugas sudah memberikan briefing singkat kepada para pengunjung. Pengaman berupa harness juga dipasangkan ke setiap pengunjung. Pengelola rupanya cukup peduli dengan aspek keamanan dan keselamatan pengunjung. Saya yang memang jiper dengan ketinggian, mencoba untuk bersikap tenang. Padahal saat itu jantung berdegup kencang hahaha….

Saat berada di tengah jembatan, langkah kaki pengunjung akan mempengaruhi kestabilan jembatan tersebut. Beberapa kali jembatan bergoyang cukup keras ke kanan dan ke kiri, saat langkah kaki pengunjung di jembatan. Hal tersebut kadang masih ditambah dengan hembusan angin, membuat jembatan makin bergoyang.

Beberapa pengunjung sebenarnya agak takut dengan situasi seperti itu. Untungnya, jembatan tersebut cukup aman dan pengunjung pun sudah dilengkapi dengan harness. Arahan petugas, untuk pengunjung yang takut, cukup menatap ke depan dan jangan melihat ke bawah. Ingat ya… menatap ke depan, bukan menatap masa depan, bukan pula tatap mata saya… Nanti jadi kaya acara di televisi.

Sesampainya di ujung jembatan, harness dilepaskan oleh petugas yang ada. Rasanya rupanya luar biasa saat pertama kali berada dan melewati jembatan tersebut. Kami pun beristirahat sebentar tidak jauh dari ujung jembatan tersebut. Oh ya, di tempat ini juga dilengkapi dengan fasilitas toilet untuk kenyamanan pengunjung.

Curug Sawer

Perjalanan dilanjutkan kembali menuju tujuan trip yang ke-3 yaitu Curug Sawer. Curug ini cukup deras debit airnya dan pengunjung dilarang untuk mandi atau bahkan berenang di area curug karena faktor keamanan dan keselamatan. Beberapa pengunjung berada di bebatuan sekitar curug untuk mendapatkan foto-foto terbaiknya. Derasnya air curug membuat hembusan angin yang disertai dengan uap air.

Makan siang

Tidak jauh dari Curug Sawer terdapat lokasi untuk kulineran. Beberapa kios ada di tempat ini dengan pilihan beraneka macam menu yang tersedia. Saya pun memesan semangkuk bakso untuk mengisi perut.

Saat sedang enak-enak menikmati menu yang ada, datanglah gerimis kemudian hujan pun tiba. Untungnya hujannya tidak terlalu lama, sehingga kami bisa bergegas melanjutkan perjalanan untuk kembali menuju pintu masuk Jembatan Gantung Situ Gunung.

Seni

Dalam area Jembatan Gantung Situ Gunung ini rupanya juga ada pertunjukan kesenian. Saat dalam perjalanan kembali ke pintu masuk Jembatan Gantung Situ Gunung, rupanya ada beberapa orang yang mempertunjukkan seni musik  khas Sunda. Kesenian tersebut dilakukan  di tepi area jalan, sederhana  sekali.

Pertunjukan kesenian lainnya ada di dekat tempat welcome drink. Sebuah tempat di desain seperti teater dengan bangku dari kayu. Saat peserta trip BPJ berada di tempat ini, sedang ada kesenian yang menampilkan Si Cepot.

Buat yang penasaran dengan tempat ini, silakan datangi saja. Dengan tiket masuk seharga Rp. 16.000 saat hari kerja dan Rp. 18.500 saat weekend, kamu bisa menikmati suasana kawasan Situ Gunung. Untuk Jembatan Gantung Situ Gunung, tiket masuknya Rp. 50.000. Kalau saya yang fobia dengan ketinggian saja berani ke tempat ini, masak kamu gak berani…

56 thoughts on “Mengalahkan fobia di Situ Gunung

  1. Baru tahu kalo Mas Ris takut ketinggian. Ngebayangin jembatannya gerak ke kanan dan kiri karena langkah kaki dan hembusan angin kok ya serem.

    Mas itu harga 18.500 udah termasuk ketiga tempat wisata itu dan dapet welcome drink?

  2. Wah, keren Mas Ris ‘menantang phobia’ . Jangan biarkan phobia ketinggian menghalangi Mas Ris mencoba hal-hal seru ya, sepanjang safety first. Btw, saya belum pernah nih ke Situ Gunung.

  3. ini mas ris ingin menyelamatkan kata fobia ketinggian ya? banyak banget nih biar orang2 tetep maklum wkwkwk. btw ibuku jg fobia ketinggian, naik JPO aja ga berani.
    mba widdypedia kayaknya berkesan banget nih? uwuw.

    btw kebalikannya, aku suka banget sama yg tinggi2. emang ada perasaan ngeri sih, tapi asik gitu.
    kalo diliat dari tulisan mas ris, bersih banget ya mas dan teratur disana itu. udh dari kapan pengen coba kesana, tapi masih wacana terus. sedih hihihi.

    1. Kan banyak orang yang fobia ketinggian mbak. Jadi biar nyenengin diri sendiri gitu. Kapan lagi bisa menyenangkan diri sendiri.
      Soal Widdypedia, orangnya agak galak mbak. Sudah terkenal se-BPJ Raya. Mudah-mudahan orangnya baca komen ini.
      Paling saya dimaki-maki sama orangnya hahaha…

  4. Mas, sama dong saya juga takut ketinggian nih. Naik wahana Dufan aja saya deg2an, gimana kalo harus tracking ya. Hahaha. Tapi emg katanya kalo rasa takut itu harus dilawan biar gak terus2an hinggap hehehe

    1. Kalau wahan dufan ada beberapa yang saya berani coba, asalkan gak terlalu ekstrim aja. Maklum jantung cuma satu.

  5. Wah saya sudah pernah ke sana tetapi saat itu jembatannya belum dibuka. Sepertinya saya harus ke Situ Gunung lagi untuk mencoba melintasi jembatannya. Untuk tiketnya itu Rp50.000 tarif weekend atau kalau weekday sama saja, mas? Agak sedikit mahal, ya. Tapi sepertinya akan terbayarkan dengan melihat pemandangan sekitar di atas ketinggian.

    1. Saya kurang tahu nih. Cuma saat siang hari penngunjungnya banyak banget, dan kalo dipakein harness pasti butuh waktu antrian yang banyak, karena jumlah harnesnya terbatas.

  6. Mas Ris keren bisa mengalahkan fobianya di Situ Gintung..
    Saya juga pengidap fobia pada ketinggian lho..meski makin ke sini kadang membaik kadang kumat lagi hihihi
    Jadi kalau naik wahana yang di ketinggian, dari tebing yang curan dan lainnya saya panas dibgin, deg-degan dan seterusnya. Tapi ke Situ Gintung kayaknya verani sih hehe
    Btw..tempatnya nyaman ya…airnya seger kelihatannya, pemandangannya juga masih alami.
    Semoga kapan waktu bisa berkunjung ke situ.

    1. Mbak ini Situ Gunung di Sukabumi, kalo Situ Gintung di Ciputat wkwkwk.

      Kalo Situ Gintung, pasti orang ingatnya bahwa dulu tanggulnya 10 tahun yang lalu pernah jebol dan menewaskan warga di sekitarnya.

    1. Tingginya 150-an meter, mungkin lebih.
      Kalo dipake buat bungee jumping bisa goyang luar biasa tuh jembatan dan membahayakan orang lain yang ada di jembatan juga.

  7. Jadi kalo ditotal2 masuk situ gunung plus naik jembatan gantungnya yang hits itu hampir 70 ribu ya mas ris.. aksesnya mudah nggak mas kesananya?
    Pengen kesana sih dari dulu.. cuma masih wacana aja.. hiks..

  8. Keren sama orang-orang yang mencoba keluar dari phobia…awesome…mantul Mas Ris..

    Betewe yakk…autokeinget setting videoklip adu rayu.. Nicolas sama Velove ketemu ditengah jembatan pakai baju ala-ala peneliti salaman dan tos di titik tengah jembatan… Wkwkkw

    Sampai seberang gak mas di jembatannya? Paling megerikan saat di titik sebelah mana jembatankah sebagai seorang phobia ketinggian?

    1. Sampai seberang dong, kan curugnya berada di sisi seberang. Titik paling ngeri ya di tengah jembatan karena makin ke tengah jembatan itu makan terasa goyangannya jembatan.

  9. Mas Ris hebattt…. Berani melawan phobianya….

    Karena perang yang paling sulit, adalah perang melawan diri sendiri.
    Selamat ya…. 🙂

  10. Kalo melintas ditengah2 jembatan rasanya pasti deg2an, kalo aku ga takut ketinggian sih cuma takut sama jembatan yg tali2 begini suka nethik soalnya klo lewatin jembatan macem ini takut tiba2 putus pas lagi ditengah2 hhe ., Btw jembatan ini memang sehari2 dilalui oleh warga sekitar apa cuma untuk wisata aja mas?

    1. Yee, sama aja kan intinya. Orang takut ketinggian itu pada alasaanya karena takut jatuh ke bawah.
      Ini buat wisatawan aja sih mbak. Cuma pedagang makanan dan minuman di lokasi wisata Curug, yang juga warga sekitar pasti boleh-boleh saja melintasi jembatan ini.

    1. Ah anda terlalu berlebihan wkwkwk… Tapi boleh dicoba, getaran dengkul sama goyangnya jembatan nanti lebih kuat yang mana.

  11. Aku juga masih menimbang nimbang apakah aku cukup berani melewati jembatan gantung Situ Gunung itu. Kebayang ya kalau berada ditengah tengah.
    Tapi aku penasaran..

  12. Kepengen kesini failed terus, setelah lihat reviewnya semakin niatin kepengen kesana.
    Btw tanya mas ris biasa buat di atas jembatan gitu ada durasinya maksimal berapa menit gitu?

    Thank you

    1. Kalau di jembatan sih tidak ada durasinya. Cuma oleh pengelola, pengunjung jangan terlalu lama di posisi tengah jembatan. Alasannya karena menghambat laju pengunjung lainnya juga karena jembatan punya kapasitas beban maksimum jumlah pengunjung dalam satu waktu.

  13. Aku pengeen ke jembatan Situ Gunung ini. Menantang adrenalin diri sendiri, hehhe.. Apalagi rame-rame gitu. Asik banget ini Mas. Terus ada curug juga, komplit lah. Ini trip nginep ga sih Mas Ris?

  14. Waah ini destinasi yg masuk dalam wishlist dan belom kesampean didatangi sampai sekarang😄
    Memang fobia itu harus di lawan katanya ya mas Ris. Tapi memang wajib pakai pengaman ya mas kalo mau jalan di jembatan itu?

  15. Aduuuu sama saya juga fobia tinggi! Naik lift yang kaca aja langsung gemeter.
    Padahal kemarin ingin ikut trip ini, sayang temen pada cancel. Dan, ternyata benar saja tempatnya kece-kece.

  16. Wah keren tripnya sambil menantang diri melawan fobia 🙂 btw itu harness nya untuk pengaman waktu mau masuk area jembatan ya mas Ris? Ko kalo ak liat di foto-foto ga ada yang pake harness ya?

    1. Dari kedua ujung jembatan, sudah ada petugas yang menyediakan harness.
      Kami pake harness kok, mungkin gak terlihat secara utuh penampakan harnessnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *